Sajak Gesit – Sajak Lapar – Sajak Lelah – Sajak Letih – Sajak Wacana – Sajak Waspada – Sajak Gelisah

Karya . Dikliping tanggal 22 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Sajak Gesit

    -seniman proposal

altar itu tak tertemukan bila enggan meliuk
naik turun mengikuti jalan yang tergambar di atlas
apapun harus dikerahkan
siapapun mesti mengolah retakan aspal
bila ingin menghirup atmosfer berbeda
yang sedikit menyejukkan
atau bahkan mengamankan perut dari rasa lapar
yang biasa mendera sepanjang masa
deretan angka adalah harapan yang dipasang di langit
terdoa menembus cakrawala
meski kadang menyeret tawa
mengundang berjuta cerca

Sajak Lapar

    -seniman penyuka danais

inilah saat yang ditunggu
napas yang selalu tersengal akan terlonggarkan
tak ada lagi asma yang menyandera
mari menari
menikmati melodi terkomposisi aroma wangi
sulingan belasan imaji
gerak ritmis bukan untuk diri sendiri
memuaskan ribuan kepala yang haus suguhan legenda
sudah saatnya mencicipi
kapan lagi kalau bukan saat ini
mari berpesta
memanjakan kesenian…..

Sajak Lelah

   -seniman anti danais
neraka bukan lagi urusna nanti
saat hidup telah usai dan penghisaban tergelar
di depan mata telah menyapa…
jatah terbagi kaum melata jangan dicecap
tak perlu liukan prop[osal tak jelas
absurd, juga timbulkan luka
batin tak bisa menghirup
neraka mulai menganga
mengapa harus ke sana?

Sajak Letih

   -seniman idealis

lapar kita semata mengingatkan
bahwa perjalanan masih panjang
ribuan kelokan menghadang di depan
bila terhenti, lalu mencari nasi,
terpampang perjalanan makin tersendat
tak akan pernah sampai kuil,
tempat kita berteduh dari siraman air hujan
dari kejaran angin malam, angin siang, juga debu
mengalirlah di kali warisan leluhur
yang selalu penuh makna

Sajak Wacana

   -seniman omong doang

lepasnya bianglala di cakrawala selatan
harus diabadikan
karena mengandung muatan tak terduga
yang tak tertemukan di kahyangan
apalagi di bukit-bukit selatan yang memagari laut
jadikan dongeng bagi anak cucu
taruh di museum agar semua orang terkenang
selalu mengenang
anak cucu perlu diberi sedikit kebanggaan
secuil masa lalu
bahwa leluhurnya mampu bertindak,
bergerak dan ngawu-awu
bikin terpesona nuansa di mana saja,
dengan kata-kata menukik melejit, membelah apa saja
di beranda mayapada
  -sepasang tokek ngekek
  -tergema kisah layu

Sajak Waspada

   -perayu

kata selalu dikedepankan
untuk meruntuhkan nyali
mencuatkan kegamangan,
menghindari kewajaran
tak ada salahnya debu
yang melekati tubuh dijadikan azimat
penarik simpati agar mau peduli
kapan lagi menikmati kalau bukan kali ini?
alam akan memaklumi
mengerti lalu menepi begitu saja
manusia punya nafsu
yang kadang melebihi hewani
  – ah, sama saja dengan yang lain!

Sajak Gelisah

   -seniman seolah-olah pro rakyat

bagaimanapun laparku lebih penting
dari lapar tetangga
eksistensiku juga ingin sampai singgasana
tentu saja tetap ingat ribuan yang nestapa
Sleman, Februari 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sriati DH
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 22 Februari 2015