Singir Manggala – Kerentaan Waktu – mantan pacar hujan – datuk raja benar

Karya , . Dikliping tanggal 22 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Adimas Immanuel

Singir Manggala

Aku hanya mengambilmu sejumput
dari racik rupa, dilebur di ricik maka,
jadi daging dan tubuh kita yang lata.
Kenangan serupa buhul kenanga pada
telinga, mengabukan bau langu dari
rambutmu, menghapus garis mangu.
Di ambang malam kusebut-sebut kau,
kubesut lagi, kau, runcing raut terpaut,
belah sebilah igau, sebab sepilah esok
bila cakrawala tak semurni lazuardi.
Kucari kau, kucari, di ladang kemuning
hasrat tak hanya jadi urat ruh ladiang,
tapi mengasapi kening, belukar pening.
Menyembunyikan gigil tuk berdiang.
Sementara tali nyawa bergetaran
dalam dada, sejuk mengangini suara,
menuntaskan rumpang baris sajak
pada alur usia di dahan angsana.
Betapa cinta tak membawa kita
ke mana-mana, meski berpindah
dari satu nama ke lain nama.
2014

Kerentaan Waktu

Dalam sakit dan sembuhku
terselip bayang pucat wajah
dan gemetar biru bibirmu,
ia membawa kabut ingatan
masuk dan luruh ke seluruh tubuh.
Sebab cinta seperti serbuk obat
yang hampir kadaluwarsa
dan menggerus kesadaran kita
hingga berlupa menghitung kini.
Dengan mata berkunang
kita jangkau kepastikan
meski kau bisa saja
menyembunyikan namaku
di balik ranjang tidurmu
sambil mengisi sendiri
hari kematianmu, sebab
maut adalah simpang antara
bangsal dan kosong tak terkira.
Dan hari depan masih menetes
di kantung infus, ia mengairi
diri yang kerontang, tak putus-uputus
***

Zelfeni Wimra

mantan pacar hujan

hujan, mantan pacarku yang cantik
berkabar lewat pesan singkat
dirinya kini telah sampai di Jakarta
aku sedang jalan-jalan di taman makam pahlawan
yang di dalamnya berkubur serdadu peran saudara
pikiranku yang semula mengurai betapa seram perang itu
kini melantunkan suara hujan yang dulu sering jatuh di hatiku
aku menepi, menyinggahi kedai penjual pulsa
aku akan menelepon hujan yangsudah menjadi orang Jakarta
di kedai penjual pulsa, orang-orang sedang terpana
menonton berita tentang banjir yang telah mengggenangi jakarta
2015

datuk raja benar

kemenakan mencari mamak
meminta kata menuntut bunyi
mamak ibarat teluk pelabuhan kapal
gunung pautan kabut
rimba tumpuan hujan
mengadukan untung membawa rundingan
anak kemenakan bertambah banyak
air dan tanah semakin terdesak
rumah-rumah berkembang biak
sawah dan ladang telah mereka gasak
pada ukiran tongkat datuk
adakah peta bukit dan lurah mana yang masih bisa diterka?
Adakah isyarat penunjuk arah ke mana mereka mengayun ita?
menyimak rundingan kemenakan
mamak pergi menghadap penghulu
karena sirih bergagang piang bertampuk
muara terkampung dari hulu
penghulu mengangguk-angguk entah
bergumam gumam resah
kepala lahir sudah penuh
kepala batin juga sesak
sesak ditimbun masalah
sarap nagari sampah negara
tuan pengulu merengung
menuntun rasa untuk naik
memapah akal untuk turun
memeriksa suara antara keduanya
dalam renungan, penghulu bertemu tuannya:
datuk raja benar
datuk raja benar sudah tua
badan kurusnya dibungkus baju dan celana alangkah lapang
rambut, janggut, dan jembutnya putih berjela-jela seperti jala
penghulu dipeluk dan ditepuk-tepuknya
ke mana saja engkau, penghulu?
lama kita tidak bertemu muka
apakah kau sudah lupa, kemenakan beraja ke mamak
mamak beraja kepada engkau
engkau beraja kepada mufakat
mufakat bergantung kepadaku
sedang aku berdiri sendiri
sudahkah engkau sampaikan ini ke tengah mufakat?
Ataukah mufakat telah dilipat
digulung habis tak lagi dilihat
ibarat jalan dialih orang lalu
gantang dibuang para pedagang
renungan buyar, penghulu terjaga
peluh lebat mengguyur kepalanya
ia rasakan, datuk raja benar baru saja memeras lehernya
sementara di halaman, anak kemenakan
berduyung menunggu kata, menanti bunyi
dari mamak dan penghulu mereka yang kehilangan suara
2014

Adimas Immanuel lahir di Solo, Jawa Tengah, 8 Juli 1991. Kumpulan puisinya adalah Pelesir Mimpi (2013).

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Sumatera Barat, 26 Oktober 1979. Ia bergiat di kelompok kajian Magistra Indonesia dan Mantagi Institute Padang. Buku puisinya berjudul Air Tulang Ibu (2012).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adimas Immanuel dan Zelfeni Wimra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 22 Februaari 2015