Cerita Sebuah Senja – Ketika Hujan – Selepas Hujan – Suatu Malam

Karya . Dikliping tanggal 15 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Cerita Sebuah Senja

Menatap setiap senja,
entah mengapa aku langsung teringat padamu
lelaki tua yang diam-diam datang dalam samar musim
dengan aroma hujan, meminta kopi secangkir dan
roti sekerat
‘’telah bertahun aku bertaruh dengan hidup, nak,’’
begitu kisahnya ia mulai, ‘’di ladang kopi yang
tinggal sehektare, peninggalan Kraeng Tua di
tanah leluhur, setiap musim kami memanen, biji
kopi yang menjelma keping-keping permata dan
kami memenangkan hidup kami musim demi
musim,’’ ia tersenyum mengenang.
Seolah senja bakal usai oleh lengkung senyum-
nya, tapi kisahnya belum juga pergi
‘’Hidup memang penuh kejutan, nak,’’ terjaga ia
dari kenangan, dan kembali bertutur, ‘’kala mereka
menghunus kuasa, mereka menyebutnya hutan
lindung, dan kami dipaksa angkat kaki, tapi telan-
jur aku bersumpah, nak. Demi Kraeng Tua, tak
kan rela aku pergi biarlah rebah aku di tanah
leluhur,’’ kulihat sejenak matanya terpejam
‘’Tapi, nak. Pohon-pohon itu, mereka membabatnya
habis. Maka kami menjerit dengan amuk kehilangan
asa, jerit yang disambut rentet senapan, hingga
darah tumpah di Congka Sae, apa salah kami?’’
Sebutir permata menetes bening dari kelopak
matanya, bersama embun
turun perlahan di pelupuk malam.
Ah, senja yang membingkai malam
bantu aku menemukannya dalam rinduku
lelaki tua dari Congka Sae
adakah namamu dicatat sejarah?
Bahkan waktu pun turut membunuhmu.
Waerana-Manggarai, medio Juli 2011
Catatan:
Kraeng Tua: sapaan hormat untuk laki-laki yang memiliki kedudukan terhormat dalam keluarga atau dalam suku di Manggarai, Flores-NTT.
Congka Sae: sebutan untuk tanah Manggarai, Flores.

Ketika Hujan

Butir-butir seperti bulir padi
jatuh tak tergapai tangan
tercurah dari langit
kini ia mengiris setajam pisau
menusuk atap, dedaunan, tanah
maka anak-anak berdarah
telah dilanggarnya nasehat ibu
‘’jangan bermain di bawah hujan
di sini,
hujan telah berubah menjadi pelor’’
Atambua, Januari 2010

Selepas Hujan

Pukul tiga
hujan telah lalu membawa sisa
gelisah dan remah cemas
jalanan lenggang, sehabis parade kekalahan
orang-orang kalah
sosok-sosok tak berwajah
lalu dalam tapak-tapak tak bermakna
Hidup selepas hujan
menghapus bekas kekalahan
dibawa air hanyut ke sungai
lalu menuju entah
Atambua, Januari 2010

Suatu Malam

Menatap bayang dalam cermin
aku kian menua usia
selembar dua uban
ialah tetanda
tak lama lagi itu perhentian
Ah, waktu
tak bolehkah aku tak kau kekang?
Kupang, 2014
Gusty Fahik lahir 5 Agustus 1986 di pedalaman Timor-NTT, dan kini berdiam di Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya di UGM
Rujukan:
[1] Di salin dari karya Gusty Fahik
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka “pada 15 Maret 2015