Hammurabi – Jalan Simpang – Rumah di Ladang – Perjalanan Malam – Kereta

Karya . Dikliping tanggal 1 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Hammurabi

akulah gembala dari bangsak
padang-padang terbentang  ke semua penjuru
Tigris membelah dadaku,
deras arus menggetarkan Zargos
Teluk Persia di selatan menanti mayatku ngambang
ikan-ikan menganga menunggu hari pesta
tapi kau tahu, samsuiluna
aku raja Babilon yang perkasa
seribu topan tak akan merontokkan rambutku
di timur tanahku terbentang hingga Susa
di barat kota Mari bernaung di bawah jubahku
maka tak perlu kubangun benteng-benteng
sebab batu bata akan dihancurkan usia
“tapi kau takut direnggut bayanganmu sendiri, Raja.”
kota Ur dan Nippur telah kuhancurkan
di sana bayang-bayangku terkapar
telah kau saksikan tanah-tanahnya membara
seribu tahun, tak akan ada bunga-bunga menguntum
bahkan gema akan susut ditelan cuaca
hanya waktu dan rindu akan menghentikan langkahku
seperti kau tahu, di depanmu kini aku terbaring
bukan lantaran darahku telah kering
bukan lantaran aku telah bersekutu dengan angin
Yogyakarta, 2015

Jalan Simpang

masih kudengar suara itu
gelora yang tak henti menyebut namamu
tahun-tahun lewat direlung syahwat
bekejaran burung-burung di langit mendung
di bawahnya seribu mesin memburu angin
bendera-bendera berkibar di tiang listrik
aku, mengutuk waktu
memburu deru
di barat kota-kota menyanjung nama
di timur Spinx menangisi padang pasir
berdiri aku di batas getir
serapah tumpah menjelma desah
Gilgamesh memburu ilusi ke ujung sunyi
Sargon menyanyikan lagu untuk kematiannya sendiri
tapi di sini aku berdiri
menimbang hari paling sunyi
di kedalaman puisi

Rumah di Ladang

sebuah rumah di tengah ladang
begitu senyap saat kutinggalkan
dindingnya yang tua akan lapuk diterkam hujan
tapi dasarnya tak akan hancur
sebab di sana telah kutanam ari-ari
yang ibu wariskan di hari kelahiran
di mana nama dan sukma pernah singgah
sebagai tanda kelahiran
tetumbuhan bunga di halaman
kupasrahkan pada tangan hujan untuk menyiram
bila esok aku datang
kelopaknya akan kupetik dan kujadikan bintang
atau sekadar kompas bila dalal perjalanan
aku tersesat dan tak mengerti arah hasrat
jam menunjuk angka tak dikenal
waktu kuucap selamat tinggal pada pintu dan beranda
tiang penyangga terpaku
seakan tak ingin menyaksikan panorama di wajahku
angin santer menderu
pohon-pohon terisak pilu
aku tahu akan ada rindu mengental melebihi madu
sebuah lagu dinyanyikan burung-burung hutan
mataku memandang ke selatan: sebuah jalan mengular
batu-batu terjal jauh dari akar
aku anak hilang!
masih terngiang suara keriap lincak
saat malam senyap, aku telentang di atasnya
menghitung kayu-kayu melintang di atap
lampion remang memantulkan bayangan lemari tua di lantai
tanganku menjangkau cahaya emas
yang tak pernah bisa kurenggut
waktu semakin susut bagai segumpal kabut
sesekali kusaksikan terperangkap dalam almanak
selebihnya hanya detak jam
pelangi timbul tenggelam di biru lazuardi
musim berganti kawanan lebah riang bernyanyi
aku berlari. aku berlari
entah ke mana aku berlari
sebuah rumah di seberang terus tergambar dalam diri
Perjalanan Malam
denting tiang-tiang jauh dari sunyi
jalanan sepi ditinggalkan hasrat puisi
bocah-bocah tak bernama
menunjuk-nunjuk gambar di papan iklan
aku melangkah tanpa baju zirah
langit basah jadi asing
lukisan angin pada tembok kusam
bagai hikayat kematian
“apa yang kau pandnag?”
kudengar suara tanpa bentuk
datang dari ufuk jauh tak berlubuk
di barat bulan langsat
berlabuh di atas masjid
orang-orang dibangunkan nyanyian burung
bintang timbul-tenggelam
seperti suara lirih gelandangan
di tengah riuh redam keramaian
ketika bertanya kuburnya di mana
“aku melihat wajah durjaku abadi
pada setiap tepi jalan ini,” sahutku
setelah itu seribu deru datang 
menyambut fajar dan terang
Kereta
aku menaksir waktu keberangkatan pada karcis terlipat
membentang harap dan cemas akan tiba di satu alamat
kursi-kursi berderet seperti pelayat kesedihan
di luar orang-orang melambai di bawah hujan
gerbong gaduh suara janji dan ucapan selamat tinggal
ada yang menangis di muka jendela, wajahnya kuyu bulan
gerhana
pluit melengking ditiup masinis, senja merentangkan tangan
stasiun yang pendiam membiarkan lantainya basah air mata
Kamil Dayasawa: lahir di Sumenep, 5 Juni 1991. Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya-UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kamil Dayasawa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 1 Maret 2015