Luka Kembara – Rekonstruksi Merah dan Putih – Tiba Waktu

Karya . Dikliping tanggal 1 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Luka Kembara

Pertempuran mengajarkan banyak kemungkinan
tak sekedar luka, tangis, dan keputusasaan.

Garis silang beset pada kulit
mengenangkan pada ingatan atas gulat.
Kucur darah keringat jadi tetes embun
bukan suling ekstrak wangi parfum.
Kerut kening dan picing mata tanda
sigap pada bahaya, bukan laku waspada
sedang membikin salah. Maka
ayunkan pedang tak harus searah
jarum jam. Karena musuh mengintai
dari segala penjuru, bantai!

Pertempuran mengajarkan banyak kemungkinan
tak sekedar garam, bunuh karena dendam, .

Kehidupan jadijalan menikmati waktu
sadari sebagai harus dan perlu. Tapi
kehilangan adalah cara mensyukuri cinta
sebab pukaunya cuma tercipta di buana.
Maka hadapkan mata pedang pada diri,
agar segala ngeri luka mati menghampiri
leher sendiri.

Ringkik luka pertempuran lebih merdu
ketimbang lafad kitab-kitab yang dilagu.

Percayalah,
luka dendam akan sembuh dijilati waktu
tapi keangkuhan akan lahirkan lebih banyak luka.
Berlari segera menuju pertempuran
berlari ke atas bukit, ke dalam hutan
berlari ke deras arus sungai sebagai pejantan.
Ajal lebih setia dan tak pernah ingkar
buru, rangkul tanpa perlu gentar.
Sebelum kesiaan jadi kereta kencana
sebelum penyesalan memberangkatkan
doa-doa yang alpa, sia-sia, hilang makna.

Jejak Imaji, 2015

* puisi ini terinspirasi film Rurouni Kenshin:Kyoto Inferno.

Rekonstruksi Merah dan Putih

: pledoi bawang

Siapa menegaskan warna merah itu merah
putih jadi putih, bukan kuning, hijau, biru, atau kesumba?
Mereka bilang merah itu berani
sedang terhadapku identik kemungkaran.
Padahal sama tahu darah jadi perlu dalam tubuh,
jadi semangat kibaran lambang kenegaraan.
Mereka sebut nyala untuk memberhenti laku di jalan
tapi terhadapku, seakan kejahatan tak mampu dijinakkan.
Merah terlanjur jadi musuh bagi putih
meskipun pada mawar merah putih sama-sama punya duri.
Kenapa suci harus putih sedang lainnya tak,
hitam kau kata kelam, biru duka, ungu kelabu, kesumba
nestapa!
Selalu kau banggakan putih simbol kesucian
tapi sperma tetap najis, harus dimandikan
dengan siraman air penyucian dosa yang besar doanya.
Putih pada darah itu musuh tubuh jika merah tak ada,
tapi tetap saja diagungkan meski kematian lebih cepat 
datangnya.
Ai Mak Jang,
periksa kepalamu, jika rambut putih lumer
segera kau semir padahal tahu usia akan berakhir.
Jejak Imaji, 2015


Tiba Waktu

: angga trio sanjaya

Tiba waktu,
malam mulia melebihi malam-malam sunyi seribu puisi.
Otot tangan kaki mungilmu telah kekar, Dik,
gagahi jalan terjal dan menggodanya selangkang malam.
Kembarai jalan yang disesaki harum parfum sebagai pejantan,
tinggalkan karib, sebab karib adalah musuh abadi.
Pergilah, patahkan perasaan
runcingnya kita khususkan menulisi
nama seseorang yang dianggap perlu.
Kau tak harus menulis namaku, seperti
aku yang mempertimbangkan menulis namamu.
Seret tubuh lusuh dan angkuh
mengembarai siang malam yang mulai banyak
dilupakan orang.
Kebijaksanaan hanya ada dalam angka
langkah yang kita sendiri perlu melakoninya.
Sebab hanya masing-masing tahu
kapan dan pada siapa busur harus dibidikkan.
Lucuti kepingan kepingin atas putaran waktu
agar kalam ditangkap bukan karena dongengan seseorang.
Mari, hapus air mata
dan kita ubah lagu eluh jadi hentakkan pemburu.
Perjalanan adalah sikap menyatakan angan
setelah bersandar dipukau bergelas kopi dan
kretek berpuntung-puntung.
Tiba waktu,
mari pergi, bulan sudah meninggi.
Susuri jalan-jalan baru, penuhi ransel dengan
pensil kertas. Tetap pertahankan perut membunyi
agar kehakikian mampu ditangkap indera,
karena kesakitan adalah karib pengembara.
Jejak Imaji, 2014 – 2015




*) Iqbal H Saputra, lahir di Belitong, 8 November 1989.
Pernah kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Saat ini mengabdi di UAD, Fakultas Sastra, Budaya dan Komunikasi sebagai teman belajar mahasiswa. Aktif dan berkegiatan di Komunitas Belajar Sastra Jejak Imaji.






Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal H Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 1 Maret 2015

Baca juga:  Percakapan Pohon - Ziarah Bulan