Pameungpeuk – Ingat Rendra Saat di Leiden – Sumur tanpa Dasar – Subuh

Karya . Dikliping tanggal 1 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Pameungpeuk

ricik air sungai
angin lembut
bertasbih
2015

Ingat Rendra
Saat di Leiden

sehening teratai
kau olah sukma
malam senyap
di Leiden
2015

Sumur tanpa
Dasar

– ingat Arifin C. Noer

lumpur kata-kata
lenyap cahaya
di hati. Kau
meraung
2015

Subuh

lembut alfatihah
menilam kalbu
angin subuh
rahmatMu
2015

Variasi Ular
Hitam

– untuk Sapardi Djoko Damono

1
melingkar di sana
kulitnya sihir
hawa suka
melayang
2
Adam juga Hawa
kena bisiknya.
mabuk berat
di hotel
3
dasar kampret. Suka
menggoda. Hamil
ditinggal. Duh
gulita
4
memang ular hitam
si raja teluh
maut sungguh
di bumi
5
dan kini diburu
kulitnya bagus
bisa bikin
sepatu
2015

Amsal Maut

– ingat ibu

1
maut tarik jangkar
kapal melaju
bulan pucat
di kiblat
2
saat disalatkan
bayangan kenang
melintas. Kau
di batin
3
o jiwa yang tenang
sapa Al-Quran
dipanggilNya
mesra. Ya
4
dan aku di sini
di logak kubur
sunyi sudah
tafakur
5.
dan lobang ditutup
kubur bertabur
bunga. Doa
melangit
2015
Sejumlah puisi di atas ditulis
sepanjang empat baris dengan pola 6-5-4-3 suku kata per larik, disebut sonian.
Pola penulisan puisi tersebut dikreasi oleh penyair Soni Farid Maulana,
memberikan warna baru bagi perkembangan dan pertumbuhan puisi Indonesia kini.
Pemilihan suku kata yang semakin sempit ke bawah dimaksudkan agar puisi menjadi
fokus dan tidak pecah belah. Selain itu, sonian bukan jenis puisi yang
meledak-ledak. Grup Puisi Sonian yang dibuka di jejaring sosial Facebook oleh
penggagasnya diminati banyak penyair. Mereka tidak hanya datang dari berbagai
penjuru Indonesia, tetapi juga dari Malaysia dan Singapura. Baru-baru ini, di
Jakarta, pianis Ananda Sukarlan di Balai Budaya Jakarta menggubah sonian karya
redaktur fiksi Majalah “Gadis”, Farick Ziat, ke dalam komposisi musik. Demikian
pula Nia Samsihono dari Pusat Bahasa, Jakarta, menulis esai pendek yang
dipublikasikan di konfrontasi.com, juga penyair Ewith Bahar, di akun Facebook
pribadinya yang dibagikan ke banyak pihak. ***

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Soni Farid Maulana
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar “Pikiran Rakyat” 1 Maret 2015