Sajak Omong Kosong – Meminjam Mata – Ada Api Membakar Api

Karya . Dikliping tanggal 8 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Sajak Omong Kosong

Berpuluh dalam detik
kau katakan tentang jantung jiwa
namun dengan kukumu kau robek dadanya
Beratus dalam menit
kau katakan tentang paru-paru dunia
namun dengan jarimu kau congkel ulu hatinya
Beribu dalam jam
kau katakan tentang sejuknya
namun dengan tanganmu kau babat semua hutannya
Berjuta dalam hari
kau katakan tentang hijaunya
namun dengan angkuhmu kau tancapkan beton-beton di puncak giur
di atas bonggol-bonggol yang menangis
Kau tidak pernah rasakan lidahmu bergetar
kau tidak pernah memegang bibirmu

yang bergerak
berpuluh, berates, beribu, berjuta kali kau ucap,
kau lebih baik bisu dan nikmati nyanyian sunyi.

Baca juga:  Seekor Keledai Memasuki Kerajaan Surga

(2012)

Meminjam Mata

Haruskah kita meminjam mata leluhur
untuk melihat polah tingkah generasi di mana kita berdiri
mengartikan air mata yang mereka alirkan
haruskah kita meminjam mata nenek moyang
untuk menilai pekerjaan kita
memahami harapan yang tersimpan dalam angan mereka
air mata mereka akankah kebahagiaan
harapannya terwujud
ataukah kesedihan karena kita sia-siakan
harusnya
kita meminjam mata nenek moyang dan cucu-cicit kita
(Madiun, 18 Desember 2013)

Ada Api Membakar Api

Ada api membakar api
terbakar api terbakar

api apa?
ada api?
membakar apa?
api?
siapa membakar?
api
siapa api?
ya siapa?

Baca juga:  Di Hari Kematian Baradita Katoppo - Anak-Anak - Almost Blue - Tentang Orang Datang - Syair Malangsumirang

(Madiun, 19 Desember 2013)
 

*) Anggo Yuono Prasojo, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Madiun 

Rujukan
[1] Disalin dari karya Anggo Y Prasojo 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” 8 Maret 2015