Sinar Laser – Halimun – Komidi Putar

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Sinar Laser 

Sebelum sinar laser jatuh ke mata kami,
kau bukakan buku cerita. Dan kau membaca cerita
kancil berhidung emas. Kau membacanya dengan lambat,
sehingga pendengaran telinga kami samar
untuk menerka sinyal tentang keajaiban ceritamu.

“Mohon jangan ditimbang bila bimbang,” katamu sebelum
menyelesaikan bacaan. Dan kami mengernyitkan jidat
karena tak paham.

***

Kau menutup buku ceritamu. Dan sinar laser jatuh
ke mata kami. Kejutan pun tercipta di antara kepala kami
yang mendongak. Beberapa kata merintih
setelah dilepaskan bibir kami, tapi lamat-lamat mati.

Di ruangan ini,
isyarat lengkung yang kami bangun seolah dihapus.

Baca juga:  Sungai Serayu - Sungai Bengawan Solo - Sungai Kelawing - Sungai Bogowononto - Sungai Progo - Kartini Belajar Memanah - Orasi Kartini - Kartini Menggugat Kitab Suci - Karsih Kartini

Surakarta, 2015

Halimun 

Tubuhku kuning
Dibungkus gerimis. Balauku
tak lagi terdengar, malah
kesemutan menyerang persendian.
Dahaga aku memasuki
hutan. Terlampau dingin
sekadar mencari bayangan sendiri.

Aku ingat penjelajah semu
yang dibaca sebagai
perih usang. Memang aku harus
mengamini:

Berujung lirih, tumpul sebelum mati.

Dalam menanti bulan kelahiran,
aku perlu menggusur kedengkian
dan diganti cahaya samar.

Karena aku berlari dari pucukmu,
sebelum lepas, kutangkap lindap.

Surakarta, 2015

Komidi Putar

Lagu pengiring membuka pintu bagi
kuda ringkih merekahkan kaki ngilunya.
Lampu bohlam menggelombangkan sinarnya.
Pandanganku kembali pada dongeng pejalan gaib.

Baca juga:  Kosmologi - Menulis Harimau - Suara Saman Hutan

Lewat arah jam sembilan kudengar debar jantung
seorang wanita. Secepatnya kutampik. Tak ada bau
madu di kantung matanya. Pelan-pelan angin tua
menabrak wajahku, setelah kuda ringkih
menggetarkan perjalananku.

***

Aku berkhayal menjadi si penunjuk jalan,
sadarku tercampur pusing. Ketika
sampai di persimpangan lima, kupilih tidur
biar dapat jawab dari mimpi lewat.

Aduhai, mimpi lewat ternyata bertemu tupai,
dibisikinya aku:

Pilihlah jalan tanpa melompat.

Segera kuda ringkih kupukul pantatnya. Dan aku pun
melesat menuju salah satu jalan yang beda.

Baca juga:  Ecclesia Penitens - O - Oceans - Always in My Head

“Kuserahkan garisku pada kuda ringkih.”

Entah kenapa kuda ringkih
membawaku ke ruang yang sama,

berputar-putar membentuk satu titik.

“Aku harus membeli karcis lagi, supaya dapat
menata ulang perjalananku di komidi putar ini.”

Surakarta, 2014

Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Timur, 22 januari 1994.
Saat ini ia belajar Desain Interior di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Buku puisinya Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aji Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 8 Maret 2015