Tuan Habib dari Yaman – Rumah di Atas garam – Nubuat yang Datang Terlambat

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Tuan Habib dari Yaman

Tuan Habib dari Yaman, berhentilah menceracau
di zaman begini galau,” ibuku menyeru dari ujung pulau
dari jauh sudah jelas tampak
rambutnya berombak pagi masak
bulu mata bunga cupak
dagunya tanjung terkuak

Ayahku itu datang ke sini dengan sebuah pincalang
matanya merah hari petang, hidungnya bengkok panjang
alis dari arang hitam
mata besar bulat ladam
& pada giginya tampak
sebaris platinum
cerlang di hari garang

Dia pedagang batu akik generasi pertama
kakekku terheran-heran: “Di pulau emas ini ada orang
yang lebih percaya pada yang jauh kalah mulia!”

Lalu kompeni itu berkapal-kapal datang
menggelindingkan roda-roda meriam dalam geram

“Benteng-benteng Engku dari bambu hanya
sedang peluru kami beratus kepal tinju besarnya!”

Lalu ayah dan ibuku kawin tepat di hari ke-40 pengepungan
jubah dan sorbannya telah berwarna kelabu-pirang
kerbau dan pedati pengangkut mesiu patah kaki dan pinggang

Baca juga:  Hari Eksekusi

“Kalian teruslah sampai sudah
aku lelah, sampai di sini sajalah!”

Pohon-pohon batang bayu patah layu
“Tuan Habib dari Yaman, berilah kami wahyu!”

Tapi kompeni-kompeni itu masih juga bertanya
bersama salak meriamnya: “Adakah lagi padri
yang masih tersisa di pulau ini?”

Rumah di Atas garam 

Kami dirikan rumah di atas garam
yang dikelilingi air, lalu ombak besar datang
di atas reruntuhannya kami menari-nari sedih bagai kubah-kubah
tinggi-raksasa di gurun pasir
tambur-tambur empat persegi mengiringi kami jatuh
rusa berkaki belang berlari dari hutan melompati lembah
demi lembah menghempas ke pangkuan
ketika malam cahaya bulan memancar
seperti pincuran air di kaki gunung
lembut dan gemulai
menerpa, bagai membelai

Rumah beratap tinggi telah dibangun untukmu di tepi hutan
yang dikelilingi kabut-hujan, dari kebekuannya kau menari-nari
sedih bagai pohon bambu
pada musim angin keras dan dingin
pada akhir tahun ketika burung ketitiran dan punai merah hinggap
di atasnya, di atas menara-menar tinggi yang bergoyang-goyang
harimau mengendap-endap di baliknya, d balik perdu lebat
mengintipmu ketika kau memutuskan menangis
ketika siang, pancaran sinar matahari meluncur
menembusnya, bagai tombak majal berkarat
garang dan cepat
menghunjam, bagai khianat

Nubuat yang Datang Terlambat

Dalam gelap-pekat kau berjalan
meraba-raba dinding rumah sendiri serupa
meraba batu-batu cadas pada dinding gua
gerbangnya menutup diri rapat-rapat untukmu
kau merasa tertidur dalam sunyi pertapaan
lalu mendengar firman:

Baca juga:  Hantu Komunis

“Hidup kadang-kadang saja lembut
maka senjatamu teruslah asah
Aku berdiam pada gagangnya!”

Dalam gelap-lindap lantai rumahmu berderit-derit
kau merasa itu derak dinding gua dipukul gema
kau pucat dan gentar, petir di langir menyambar
pohon-pohon kering di hutan luar terbakar
asapnya sampai ke jendela rumahmu
kau tercekik bagai ada malaikat melilitkan
kedua tangan pada lehermu & berbisik
“Aku bersumpah demi awan gelap ini
yang turun setelah petang hari
Aku sama sekali tidak benci padamu
Aku berkata begini agar hatimu snang
tapi Aku mesti menyingkir
tapi bukan pertanda mangkir!”

Baca juga:  Apotek di Jatinegara - Menunggu Oto - Apa itu Komunis? - Salida Kuarsa

Lalu kau merasa ingin terjun ke dasar lembah

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Padang, Sumatera Barat. Buku puisinya Odong-odong Fort de Kock (2013)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Deddy Arsya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 8 maret 2015