Berapa Usiamu Hari Ini – Aku sudah Lelah Berteriak – Perbincangan dalam Kamar

Karya . Dikliping tanggal 10 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Berapa Usiamu Hari Ini

berapa usiamu hari ini? sehelai bulu matahari
tanggal lagi oleh gigitan tokek waktu. pada lipatannya
berderet bangkai kutu dan kecoa yang kau bunuh
kemarin lusa. kata-kata berhamburan dari jendela,
larut dalam hiruk-pikuk jalan raya adakah makna jam
tersisa pada cecerannya?

berapa usiamu hari ini? jadikah kau membunuhku
malam ini? ah, rasanya aku belum tega. uban di
rambutmu belum merata, dan yang kemarin memutih
kini telah lenyap di salon kecantikan pinggir kota
(perempuan itu begitu suka mengusap tiap uban
di kepalamu, seperti ia usap kepala anak pertamanya
sebab pada tiap helainya tertera angka-angka)

berapa usiamu hari ini? hitung saja potongan kuku
jariku yang telah kau kubur itu. pada tiap helainya
tertera detak jantungku yang melambat pada kerdip
matamu.
ya, berapa usiamu hari ini? hitung saja sendiri
sampai kau benar-benar tega membunuhku
sambil tersedu di balik lipatan buku harianmu!

Pamulang, 17 Januari 2015 



Aku sudah Lelah Berteriak

mungkin aku kini akan berbisik saja,
pada angin, pada debu yang berpusing, pada semut yang berderet
di jendela, pada burung yang melintas di udara. aku
sudah lelah berteriak, mengingatkanmu akan riwayat
ular dan buaya, yang sesekali menjelma tikus dan
musang di lipatan pakaian dinasmu. mungkin
daundaun ayat itu akan layu, dan runtuh bagai helai-helai
daun jambu.
mungkin kini aku akan bergumam saja,
membiarkanmu melipatgandakan angka-angka,
yang kau curi dari anggaran belanja negara, dan
menumpuk di rekening istri simpananmu. ah, ada
pula yang kau sembunyikan di kardus berdebu. bagai
igauan ilalang pada embun, bagai igauan ketela pada
belatung, aku akan menghitung diam-diam, sampai
saatnya darahku mendidih dan kepal tanganku
menghantam ke wajahmu. lalu aku akan kembali
bergumam saja, membiarkanmu berlalu dengan
wajah lembam dan membiru.
ah, siapa akan mendengar detak jantungku, galau
hatiku, kecamuk otakku. mungkin aku sisipus yang
gigih mendorong batu ke atas bukit itu. mungkin aku
bilal yang terus berseru meski dada ditimpa batu,
sampai saatnya batu berbalik menimpuk wajahmu
yang dungu.
Kota Tangerang Selatan, Januari 2015

Perbincangan dalam Kamar

kau sembunyikan lagi malaikat maut
di balik lipatan kitab langit yang sobekannya
Engkau titipkan di kamarku, pada bab batu nasib
biarkan dia beristirahat dulu menunggu kesiapan jiwa
setelah tubuh menyerah pada kerentaannya sendiri
tak tahu aku bakal menyerah pada stroke atau glukosa
kanker paru atau maag yang menggerogoti lambung
tua
mungkin juga pada detak jantung yang mulai
terengah-engah memikul berat badan dan beban usia.

Baca juga:  Hidung

biar sajalah, pola hidup telanjur
tak sesuai daur semesta
“jaga makanmu. jaga jam tidurmu!
langkahkan kaki tiap pagi
mendaki jalan setapak itu!“ katamu
ah, enak saja kau bernasihat begitu
pengembaraan mimpi
lebih nikmat bagi renta tubuhku

biarlah kurehatkan dulu malaikat maut
sebab kutahu dia takkan bosan menunggu
mungkin juga kau yang selalu
memelihara rasa Rindu

Pamulang, Januari 2015 




Terdengar Panggilan itu Lagi

terdengar panggilan itu lagi. dari arah rahasia
yang tak dapat diraba oleh pelacak apa saja
musala di seberang sedang mati listriknya
dan televisi di ruang tamu sudah kumatikan
sebelum senja.

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-4 Januari 2016

terdengar suara itu lagi, ya, suara itu lagi
seperti dari balik daun telinga atau dari dalam
bilik jiwa. ah, tidak juga. mungkin dari dalam
tiap gelembung oksigen yang mengalir
bersama udara, yang menyentuh bulu-bulu lembut
di sekeliling gendang telinga

terdengar panggilan itu lagi. ya, panggilan itu lagi
bersama atom-atom udara yang menyusup dada
dan mengazaniku dari bilik jantung tua.
terdengar suara itu lagi, memenuhi kamar, dan
menggetarkan tubuh renta.

terdengar suara itu lagi. serasa suara Rindu
napas zuhudku yang makin dekat pada-Mu.
ayo, menghadap padaku sekarang juga
akan kupeluk Engkau
dengan segenap Cinta!

Pamulang, Maret 2015

Catatan Sepercik Banjir

Hari ini aku ulang tahun. Tapi Jakarta banjir lagi,
dan aku terjebak di jalan tol. Tapi hari ini aku ulang
tahun. Apakah banjir juga perlu ulang tahun? Langit
gelap dan bulan yang kesiangan tersedu di balik awan
kelabu. Tapi hari ini aku ulang tahun. Apa kau tak
tahu? Tolong nyanyikan happy birthday, atau
lagu-lagu cinta yang membara, bukan lagu-lagu patah hati
itu. Bukan lagu banjir meluap, bukan lagu sampah
Ciliwung yang menumpuk di ruang tamu rumahmu.

Hari ini aku ulang tahun, tapi hujan tak reda-reda
dan banjir makin merata di jalan-jalan raya. Hari
ini aku ulang tahun. Masih adakah tempat yang
romantis dengan harga terjangkau dompet penyajak?

Masih tersisakah ruang hijau yang tak tergenang air
hujan? Hari ini aku ulang tahun, tapi lagi-lagi kamu
menyanyikan lagu patah hati itu, lagu melankolis yang
meriwayatkan hidup burammu sendiri.

Baca juga:  Ajal

Hari ini aku ulang tahun. Ah, apa pedulimu. Ulang
tahun hari ini, esok atau lusa, sama saja. Banjir tetap
menelan Jakarta. Lihat wajah gubernurmu yang
makin kecut dan tak dapat lagi tertawa. Mungkin ia
pun lupa ulang tahunnya. Hari ini aku ulang tahun,
dan lagi-lagi banjir menelan Jakarta. Ah, itu baru
sepercik, katamu. Monas masih menjulang, dan belum
tersentuh bongkahan emasnya.

Hari ini aku ulang tahun, dan mungkin juga kau,
dalam rasa sepi dan patah hati lagi. Ya, akhirnya
kudengar juga suara tangismu dalam gemuruh banjir
serta sajakku. Sungguh, ingin kuusap air matamu, tapi
banjir telah menghanyutkan sapu tanganku!

Jakarta, 17 Januari 2015


Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan, lahir di Kaliwungu, 17 Januari 1958. Ia dikenal sebagai penyair religius-sufistik, tapi juga banyak menulis cerpen, kolom, dan esai sastra. Ia pernah meraih Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2008) untuk buku puisi Ciuman Pertama untuk Tuhan. Kini, mengajar creative writing dan academic writing di sebuah perguruan tinggi swasta di Serpong.







Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmadun Yosi Herfanda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 10 Mei 2015