Berjaga – Apen – Yang Bagai Hujan – Petuah – Kulihat Langkah-Langkah – rapuh – Rahasia Laut

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Berjaga 

Luka-luka hanya milik kita yang berjaga
Darah yang mengalir semacam rindu kutukan
Pada halaman, bunga-bunga bermekaran

Kata ibu, bunga itu disiram dari airmata malaikat
Dan para bidadari akan memungut warnanya

Sebelum pelangi mengunjungi taman berbunga
Kubuang duri-durinya, biar tak ada luka yang menular
biar ia milik penjaga

Aku berjaga
Luka-luka tampak indah
Lalu aku berbahagia

Apen

Selalu kudengar bisik rumput pada tanah
Setelah orang-orang binasa
Ia akan minum tuba
Di atas ranjang yang pernah ia buatnya

Lalu, mereka keluar memikul batu-batu
Dan diturunkannya sebelum sampai

Baca juga:  Kabar dari Buku - Storyboard - Kepompong Kata - Kartu dan Mayat-mayat

Sementara dari negeri asalnya
Orang-orang membuat apen dari air mata
Sebagai doa untuk yang tiada

Maka ia berjalan menuju matahari
Seperti raja penuh permaisuri

Yang Bagai Hujan

Yang datang bagai hujan
Pernah ada dalam dada

Hujan apakah ini Tuhan
Mengapa airnya begitu lebat mengaliri dada
Apa ini yang bersumber darimu

Harumnya seperti yang kulihat pada dada perempuan
Membuatku terkapar,
Kepayang kehampaan

Petuah

Tutuplah mataku, kawan
Dunia telah tenggelam dalam khayal

Dan masuklah ke hati perempuan
Kau akan etnang bersama Tuhan

Kulihat Langkah-Langkah

Aku lihat langkah-langkah terhenti
Mereka titi alis senja dalam merahnya

Baca juga:  Keluarga yang Menanti Hujan

Pada wkatu yang kubungkus dalam angan
Seruling menyenandungkan kesetiaan

Aku lihat langkah-langkah kelam
Pada wajahnya, nanar matanya ke ulu langit
Seakan ingin berdoa

Awan-awan berarak ke wajah semesta
Mereka palingkan pandang
Pada rahim bumi terbelah
Ah, sial
Mereka belum waktunya berpulang

Adakah Engkau selain tujuan
Langit dan bumi yang kupandang
Habis diam-diam

Rapuh

Sudah kusaksikan cahaya-cahaya
berguguran di ranting kalbu
Kurasa, kini ia pun rapuh

Rahasia Laut

Laut menyimpan rahasia
Dan serpih matahari menyiramkannya gulana

Seperti juga namamu
Aku menulisnya di pasir ini
Bersama dukaku yang lalu

Baca juga:  Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean

Luka yang tak dihapus ombak
Ia bagai karang-karang
Menjadi saksi setiap kedatangan

Meski dengan bahasa terbata-bata
Ia titipkan sakit pada matahari
Maka sinarnya akan emmbakar
Dan ia menyimpan rahasia laut
       -di kedalaman

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Rasyidi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 23 Mei 2015