Elegi – Fotosintesa – Melati – Gadis, Bunga, Buku, Airmata

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Elegi

Gadis dan tukang kebun itu bernyanyi bersama.
‘’Lihat kebunku penuh dengan bunga, mawar melati
kamboja semuanya ada.’’
Demikianlah pada subuh yang hening itu,
kami bernyanyi, sambil mewarnai bunga dengan
warna darah, melepas duka satu demi satu
gugur menuju tanah pusaka di seberang mata.
Gadis dan tukang kebun itu bernyanyi bersama.
‘’Lihat diriku penuh dengan bunga, mawar melati
kamboja semuanya indah.’’
2014

Fotosintesa

Aku sudah terbiasa hidup dengan ulat.
Tubuhku lesap, dirajah.
Ubun-ubun dibasahi embun.
Udara panas dan kering tak henti
menyuapkan maut.
Menggugurkan aku.
Aku ingin hidup.
Bersemak di rimba semesta.
Berteman angin melampaiku.
Aku bermandi mentari.
Memeras keringat risauku
di semusim semi.
Angin-angin meniupkan
darah ke jantungku.
Tubuhku dibalut bunga-bunga
dan seikat sutra.
Akan kudekap hangat.
Seberkas cahaya yang melesat.
Kulekatkan mataku ke matanya.
Dan kuceritakan kepadanya rahasia
perjalanan darah di tubuhku.
Aku jatuh cinta
kepada mata yang bercahaya.
Kubayangkan ia muncul
dari setitik putik.
Membacakan sajak-sajak erotik
yang melebur bunga menjadi air mata.
Tetapi ia tak kunjung ada.
Entah apa yang dicari sia-sia.
Aku sudah terbiasa hidup dengan ulat.
Tubuhku lesap, dirajah.
Mungkin segera aku menjelma jadi bangkai.
2015

Melati

Yang seputih awan sudah tiada.
Gadis itu mencarinya, hingga berkas-berkas cahaya
menghamburkan segala warna.
Yang seputih awan sudah lenyap.
Gadis itu mencarinya, hingga warna bunga-bunga
berubah gelap.
Yang seputih awan sudah….
Gadis itu tiba-tiba menjelma bunga
seputih melati.
2014

Gadis, Bunga, Buku, Airmata

Gadis itu mewarnai bunga dengan
airmata pada halaman buku yang
belum selesai dibaca. 
Bunga-bunga tak ada habisnya
dieja.
Bekas basah di buku itu, adalah
airmata, yang jatuh ketika hendak
mewarnai duka.
Gadis dan bunga tak tahu kenapa
airmata tiba-tiba ada. Mereka juga
tak bertanya kepada buku yang tidak
pernah selesai dibaca: ‘’Kenapa
warna duka selalu airmata?’’
2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Moh Faiz Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 24 Mei 2015