Macapat Z – Sepuluh Kubus – Jangan – Jisim – Runduk

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Macapat Z

Raja buaya putih yang telah ditolongnya memberinya palu. Palu, yang jika dilempar ke arena menjelma ayam jago. Ayam jago yang digdaya. Yang selalu berkokok setiap menyelesaikan pertarungannya. Dan yang sempat melihat pun berkata: “Lihat, itu si tuan dan ayam jagonya.” Dan oleh si pencerita, pun diceritakan, bahwa ayam jago itu berjalu keris. Bahwa dia (yang dipanggil sebagai si tuan) mampu mengubah air laut yang asin menjadi tawar. Juga mengalahkan si penguasa-tambak. Yang hanya bisa dikalahkan jika bayangannya ditombak. Lalu, oleh waktu yang berjalan tanpa menengok kiri-kanan, dia dan ayam jagonya, dilemparkan ke masa kini. Masa ketika cerobong- cerobong berbangkitan di sepanjang pantai. Cerobong- cerobong kekar. Cerobong-cerobong yang menderu ketika asap tebal dimuntahkan dari pucuknya. Kata dia pada ayam jagonya: “Lihat, itu jin yang aneh. Beranikah kau menarungnya?” Ayam jago pun mengepakkan sayapnya. Jalu kerisnya bergetar. Dan sejurus ke depan, pasti dikabluknya cerobong-cerobong itu… Demikianlah yang dikatakan si pembaca-macapat untuk menutup macapatnya. Sebab subuh telah mendekat. Dan kami yang melingkar pun mesti membubarkan diri. Tapi kami ragu, apa perkataan si pembaca-macapat untuk menutup macapatnya itu benar atau bualan belaka? Atau cuma sisipan yang ditambahkan agar macapat semakin unik? Aku (yang bagian dari kami) pun melirik ke bibir si pembaca-macapat. Dan di bibir yang tebal, kecoklatan dan tak lepas senyum itu, sekilas terlihat: hamparan rumah-rumah beton, pohon- pohon kaca, mobil-mobil baja, raungan sirene, dan ombak serta angkasa yang demikian pekat. Dan di tengah semuanya, akh, ada seseorang yang bersimpuh sambil memeluk ayam jagonya. Seseorang yang entah sedang mendoa ataukah menangis.
(Gresik, 2015)

Sepuluh Kubus

Aku beli seratus kubus. Jangan. Lima puluh kubus. Jangan.
          Lalu. Cukup, belilah sepuluh kubus saja. Dan akan
aku kirim segera. Aku kirim beserta pernak-perniknya:
          “Kunci-kunci dan tirai-tirainya.” Dan isilah sepuluh
kubus yang kau beli itu dengan jejak-jejak peri lembut.
          Jejak-jejak yang leluasa melintasi malam terganjil
dengan bunyi keliningan yang merdu. Malam terganjil
          yang kau anggap sebagai malam yang berbeda
daripada malam-malam lainnya. Sebab, di malam terganjil
          itu, selalu saja dapat kau lihat arwah-tercinta pulang
ke rumahnya. Hanya sekadar menjenguk. Terus menyimak.
          Apakah di beranda rumahnya itu sudah terpasang
lampu-sambungan ke kuburnya atau tidak? Jika sudah
          terpasang, maka akan tersenyum. Tapi jika tidak,
akan terdiam sedih. Dan ketika berjalan balik ke kuburnya,
          pun menangis. Menangis dengan kilau air-mata yang
lebih dekat ke butiran daripada ke geliat-kelenjar. Kilau
          air-mata yang sebelum jatuh ke tanah, menjelma
kupu-kupu warna-warni: “Merah, kuning, biru, ungu
          dan hijau.” Kupu-kupu yang kerap kau bayangkan
memasuki kolong ranjangmu. Sampai kolong ranjangmu
          berbinar. Dan ketika kau menelusup ke dalamnya,
pun merasa, bahwa semua yang teraba jadi begitu memanjang
          dan memanjang. Seperti panjang sebentang cahaya
yang tak dapat ditebak: “Mana pangkal, mana ujungnya.”
          Cukup, belilah sepuluh kubus saja, dariku.
(Gresik, 2015)

Jangan

“You are so beautifull” – Ilustrasi karya Lee Jung Hwa
Aku menggerakkan bidakku ke muka. Kau menangkis dengan menggeser bentengmu ke samping. Sebentar lagi aku akan menusuk rajamu. Tapi itu pasti dapat kau elak. Lalu, aku jadi ingat pada film itu. Film tentang lelaki yang termangu di depan TV. Wajahnya datar. Matanya dingin. Helaan nafasnya sesekali terdengar. Seperti helaan siapa saja yang selalu gagal mencari jawaban atas muslihat labirin. Jawaban yang tersembunyi. Jawaban yang pernah aku dan kau perdebatkan. Hanya karena ingin tahu: “Mengapa selalu saja ada yang ingin memutus arah yang berbeda?”
Akh, tiba-tiba kau culik menteriku. Aku tarik kudamu. Jika sudah begini, kita memilih imbang, atau meneruskan sampai tandas? Aku pun melirik ke matahari. Matahari sore yang agak merah. Matahari sore yang pernah kau potret. Matahari sore yang kau sebut sebagai mata dunia yang tak boleh terpejam. “Kau mesti menyerah, Sobat,” tukasmu pongah. Menyerah? Tidak. Aku tak mau menyerah. Sebab aku tahu, sebentar lagi malam akan turun. Dan itu tandanya, permainan mesti berhenti. Dan kita akan berpisah. Berpisah dengan tangan yang berlumuran darah.
“Baik, jika tak mau menyerah, jangan salahkan aku!” Kini, aku saksikan, sekian bidakku kau seret, kudaku kau ikat, pertahananku kau lindas, dan semua kau bakar. “Adakah, adakah, yang masih tersisa?” Di antara tanya yang berkelebatan ini, aku kembali teringat pada film itu. Film tentang lelaki yang termangu di depan TV. Lelaki yang ketika film akan usai, beranjak ke arah pintu. Membukanya. Terus ngeblas ke trotoar. Sedang di layar film yang mulai redup, terbaca pesan: “Film ini diperuntukkan bagi siapa saja yang memahami arti jangan atau sebaliknya.”
(Gresik, 2015)

Jisim

Jika ada kangenku karena sebaris kalimat, maka sebaris kalimat itu jadi irama. Irama pun berdetak di dada. Seperti detak ketika tertelisik ufuk-terjauh, langsung ditukas: “Apakah yang aku kangeni sudah tampak atau belum?” Dan setiap ada kepul yang membumbung pun diseru: “Wah, belum terpeluk orangnya, tapi sudah begini wangi baunya!” Inilah kangenku. Kangen yang leluasa melompat dan terbang. Juga leluasa untuk mengerahkan segenap indranya ke ketinggian. Hanya karena ingin tahu, kenapa dirimu begitu dipuja oleh bintang dan bulan. Dan kenapa pula, dirimu selalu melunasi kangenku dengan kangen- kangen yang berikutnya. Kangen-kangen yang membuat rerambut yang aku remas menggelinjang. Terus menegak. Menegak ke setiap arah. Seperti tegaknya makhluk-ajaib yang tak mau terpejam. Sebelum tertatap apa dan siapa yang dikangeninya.
Dan jika ada kangenku karena sebaris paragraf, maka sebaris paragraf itu jadi rumah. Rumah dengan pintu yang terbikin dari kayu gaharu. Dengan genting dari hamparan mawar. Dan dinding dari daun-daun sirih. Daun-daun sirih yang ranum dan cemerlang. Yang mengingatkan hasrat yang pernah diceritakan kabar tepercaya. Kabar dengan sungai-sungai yang mengalir manis. Kabar dengan angin yang bertiup pelan. Juga dengan burung-burung yang berlayangan ringan. Seringan secabik-kapuk yang pernah aku lempar sambil berteriak: “Ayo, meninggi, meninggilah. Rengkuhkan apa saja yang bisa kau rengkuhkan untukku!” Dan secabik-kapuk itu pun meninggi dan meninggi. Seperti ketinggian-naluri si penggumam yang tak tertampik. Yang kerap menyimak dengan cara yang disangka begitu terbalik. “Hai, yang selalu melunasi kangenku dengan kangen-kangen yang berikutnya!”
(Gresik, 2015)

Runduk

Sudah waktunya aku ke Giri. Menuju dirimu. Yang telah membangkitkan Sidomukti. Agar apa yang dinubuatkan pada batu yang pernah menjelma gajah, tetap terhikmat. Dan aku juga ingin menepuk Lawang Agung dengan sepotong mengkudu. Mengkudu yang berbiji lima. Agar nanti jika kita bertemu, ada lima jari yang terbuka untuk bersalaman. Lalu bisikilah aku tentang telaga yang tercerai. Juga sumur yang terguling. Dua sumber air yang pernah menjadi teka-teki: “Manakah yang lebih utama, membasuh wajah sendiri, ataukah wajah teman seiring?” Teka-teki yang baru terjawab, ketika pena dilempar ke udara, terus menjelma tetawon. Tetawon di palagan. Dan siapa saja yang memasuki Kedaton, pun tahu makna kecintaan yang teruji. Kecintaan yang bermula dari samudra, menepi ke pantai, dan beringsut ke ketinggian. Seperti ketinggian pucuk siwalan. Yang daun-daunnya berimbunan. Yang salah-satunya pernah dipetik. Untuk dijadikan tunggangan si permaisuri. Ketika pergi ke Buwun sambil mengucap: “Tunjukilah, tunjukilah, aku jalan yang lurus.” Oh, dirimu, dirimu, yang tak lelah-lelah menunjuk Kelangonan, Kajen, Tumpang, Sekar Kurung, Ketek, Karang Sono, Kerawanan, Jeraganan, Telogo Jero, Dalem Wetan, Tambak Boyo, Sawo dan Kawisanyar, sebagai lintasan terdekat. Oh, dirimu, dirimu, yang tak bosan-bosan menabuh rebana sebagai titian ke kemurnian. Juga kemurnian Giri yang begitu telah menarikku. Dan begitu membuat panjang debar yang nanti tersaji, akan sepanjang jalan di Malem Selawe. Malem, di mana setiap yang melangkah di atasnya, akan merasa, jika cagak-cagak yang semula terlihat menegak, pun pelan-pelan merunduk.
(Gresik, 2015)
Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Timur. Buku puisinya, Buwun (2010), mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award 2010.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 24 Mei 2015