Pemuja Sajak – Tan (1) – Tan (2) – Tan (3)

Karya . Dikliping tanggal 10 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Pemuja Sajak

Gusti, berkahilah nyala api!,” teriak mereka
berkali-kali

mencoba sopan, kuajukan pertanyaan
“apa yang bisa menyala dengan sajak?”

merekapun menggoyangkan tangan
“kau bukan golongan kami, tak dapat ambil
bagian, juga tak dapat bagian!”

bersikap seperti anak manis yang mengharap
diberi gula-gula
kuajukan pertanyaan yang kususun dengan
amat hati-hati
karena kudengar golongan mereka amat peka
dengan kata dan suara
“apa yang menyala dengan sajak: pidato
kemenangan atau gemuruh tangan terkepal?”

merekapun melotot, menuding-nuding dan
dengan muka sedih bergumam
“kau tak berdarah pujangga. tak paham
keindahan adalah api
yang menyalakan apa saja!”

kehilangan kesantunan aku pun melotot dan
memaki mereka
“sajak tak membuat rencana apa-apa! sajak
bukan api sebab hanya mencatat.
itupun paling-paling hanya catatan kaki yang
kau kutip sedikit-sedikit, seperti
saat kau mengupil hidung atau ngorek lubang
telingamu.
bagaimana bisa sajakmu jadi api kalau hanya
jadi cermin tempat
kau memoles muka dan dengan genit
menepuk dada : aku penyair itu.”

Ketintang Ngawi


Tan (1)

sejak kanak-kanak aku selalu membayangkan
sebagai pengelana jauh yang tak butuh tubuh
tak pernah berencana kapan saat pergi
tak pernah mencatat kapan akan datang
sejak dilahirkan sebagai bayi tak pernah takut
pada mati
sebab malaikat mau selalu duduk di pinggir
ranjangku mendongeng
tentang kisah-kisah cinta romantis atau kisah
para koboi
melecut kuda meringkik di padang savana
sambil menjentikkan pistol
sejak akrab berkawan dengan gelap petang
dan malam
aku menjelma bayang-bayang beterbangan
tak butuh tubuh
sebab, tubuh tak sanggup penjarakan jiwa
seperti anggapan orang dungu itu
yang menerka penjara bisa meringkihkan hasrat
tak ada malam yang kutakutkan setelah jadi 
kawan
mencatatkan apa yang mereka sebut: revolusi
padahal bagiku itu sekedar permainan petak 
umpet belaka
telah kutanggalkan tubuh yang tak lagi kubutuh
sebab itu aku hanya melengos tak peduli
saat kalian akan menanam jasadku di bawah
pohon-pohon pisang
atau di dasar comberan sekalipun
: kalian terlalu dungu berharap warna merah
jadi hitam di lumpur.
sejak aku tak butuh tubuh, aku paham
ejarah selalu lamban dan terlambat mencatat
peristiwa!

Tan (2)

penjara-penjara itu hanya cangkang
yang tak bisa mengubah putih telor jadi hitam
tak bisa mencegah tumbuh sayap
tak sanggup jadi tirai penghalang mata nyalang

Baca juga:  Kepada Maut - Di Depan Sebuah Kuburan - Aku, Serdadu Menunggu Giliran

letup senapan dan panas mesiu
telah memahatmu dalam sejarah
walau kuburmu tanpa nisan
mustahil kaburkan ingatan

segenap aksara tak cukup menuliskannya
namun di setiap ingatan
kau telah pancangkan lonceng besar
berdentang menggelisahkan tidur panjang

Ngawi – Geneng

Tan (3)

kusimak bau rerumputan, semak dan lumpur
tanah
sebab dari sanalah bisa dihafal kembali
sejarah
yang lolos dari pengetahuan anak-anak
sekolah
dan tak satu pun kaba atau juru cerita
meriwayatkan
sesuatu yang hilang sebelum sempat diberi
nama

Baca juga:  Pengasah Batu - Hikayat Pohon Nur

aku sudah mencoba menyapa kusno
: “terimalah warisan ini, lenguh dan derap
langkah.’

tetapi mereka terlalu banyak mengeluh dan
mencatat
lalu bermimpi bahwa revolusi bisa berjalan
damai dan perlente

mereka juga tak pernah tahu
kompas yang patah jarumnya itu
telah kusimpan di saku celana

dan, betapa bodohnya mereka
saat mendekati senja di dingin yang ganjil
meletupkan pistol dan menguruk tubuhku

kompas yang patah jarumnya
yang kusimpan di saku celana itu
turut dihisap lumpur

Baca juga:  Kepada Maut - Di Depan Sebuah Kuburan - Atlas Penyair

mulai saat itulah, mata mereka yang dekil
tersuruk kehilangan mata angin.

Ngawi – Surakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 10 Mei 2015