Perjumpaan Terakhir – Sinopsis (1) – Tembang Gaduh Penagih Mimpi – Melampaui Nasib Baik – Aku Punya Tangis Sendiri

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Riau Pos

Perjumpaan Terakhir

minggu pagi
dingin telah pergi
sejak aku datang ke kota ini
lorong penuh sesak
hanya beberapa wajah yang aku kenal
sebuah pelukan menyambut
seorang wanita dan aku tak mengenalnya
air matanya membuatku bersedih
siapakah?
aku meneruskan langkah
menuju rumah ibadah di ujung kompleks
di tikungan ke sekian
perempuan lain memelukku
dia berujar agar aku menunggu panen
dan jangan memuja kehidupan yang singkat
siapakah?
sampai di ujung koridor
seorang laki-laki berteriak
memaki pernikahan yang usai 
siapakah?
minggu pagi
ketika aku tidak lagi memiliki air mata
kupandang gundukan tanah
seseorang telah siap dengan keberangkatan
tak ada lagi pelukan
permintaan air hangat
dan pesan istimewa
segalanya selesai
seumpama udara yang terus memanas
SudutBumi, 2015

Sinopsis (1)

setiap naskah habis dibaca
aku mereka ulang kejadian
nama-nama para tokoh
hingga pakaian apa yang cocok untuk mereka
tidak sedikit, aku jatuh cinta pada perempuan 
yang berjalan di pantai
laki-laki yang pandai meloncat-loncat
dari pintu dan muncul di terowongan gua
pernah suatu sore, aku menghentikan adegan bunuh diri
tersebab muak pada persoalan sepele
yang dibesar-besarkan para tokoh
semuanya bergejolak dalam kepala
lalu menulis surat panjang kepada editor
perihal usia yang salah tafsir
dan adegan penutup yang bau basil
SudutBumi, 2015

Tembang Gaduh Penagih Mimpi

di dusun kampu
setiap orang harus punya mimpi
boleh tidur lalu mendapatkannya
atau mereka-reka agar tidak terusir
pada hari ke sembilan setiap bulan
datang pembual itu
ia menggedor-gedor pintu
memaksa masuk 
dan akan tahu
siapa-siapa saja yang tak sanggup bermimpi
para tetua
telah kehabisan akal
mereka payah dalam hal mufakat
apalagi mengatur siasat
sebenarnya pembual itu berwajah rupawan
tapi, tak ada yang mau berumah dengannya
tabiat buruk tak dimiliki, selain menagih mimpi
sambil menyanyi dengan suara galak
senja terakhir pada hari penentuan
setiap orang telah mengemas mimpi
berencana mewujudkannya
esok hari atau ketika 
purnama kehabisan cahaya
di kampu semua orang kewalahan
membuat mimpi-mimpi berikutnya
SudutBumi, 2015 

Melampaui Nasib Baik

begitu rumit diurai
warna-warna
ada yang mengisahkan pertemuan
juga duka di seberang sana
seluruhnya lagu jiwa
yang mengendap lalu mengepak tandas
kami kehilangan teman-teman
semuanya berumah di arus deras
sementara jalanku berbeda
tangga yang kudaki tak juga menepi
dan keinginan semakin mencuat
melebihi takdir
setiap persinggahan menjadi ciri 
ada jejak kami
yang diam-diam menutup pintu
dan jendela-jendela
tapi, kami sempat berjalan di ruas yang sama
berhenti lalu menyamakan waktu
di setiap tempat
kami berusaha berpegangan
namun, selebihnya hanya ada tawa
dan bisikan yang menjatuhkan
kepada angin semua kembali
menjadi ringan dan mudah mengharap
inilah jeda dalam setiap perjalanan
SudutBumi, 2015

Aku Punya Tangis Sendiri

di balik kesedihanmu ada kebahagiaan orang lain, begitu pun sebaliknya
ketika aku tak menyukai pilihanmu
ternyata kamu mampu menderaikan tawa
sementara aku hanya menyembunyikan wajah di balik pintu
menuangkan berpoci-poci teh dan berdamai dengan segala rencana baru
ketika melihat kelahiran di bilik rumah sakit
aku harus kehilangan seseorang yang telah menyekat ruang gerak
apakah harus ikut berbahagia dalam rengek bayi itu
sementara aku punya tangis sendiri
di balik kebahagiaanmu ada kesedihan orang lain, begitu pun sebaliknya
ketika nama-nama meluncur ke puncak angin
ada yang harus menyerah kalah
tak mampu bertahan meski ribuan hal telah diusahakan
aku memahami yang bergerak
tidak hanya ke atas, ke bawah, ke kanan, dan ke kiri
perputaran semesta menyebabkan aku merasakan tempat pijak
agar setiap musim membekas di hati
semoga saja: di balik kebahagiaanku, orang lain turut merasakannya
SudutBumi, 2015
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Sekar Arum (eMail: tulisansekar@gmail.com) atas kiriman karya puisi ini kepada klipingsastra. Salam Sastra
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Hartati (source: sudutbumi.wordpress.com)
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Riau Pos”