Tukang Parkir yang Tewas di Jalan – Dinihari – Simulacra – Di Tanah Kesepian

Karya . Dikliping tanggal 31 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Tukang Parkir yang Tewas di Jalan

maut adalah sepeda yang memarkirmu di tengah cahaya
di mana duniamu dan dunia penjual kaki lima sungguh berbeda
dan jalan itu, kesaksian nasib yang terlambat jadi cinta

detak jam kini berbeda di dadamu-di dada mereka
dan bunyi peluit tukang parkir, lelagu masa silam
yang berayun-ayun di keremangan lelampu–menyusun kenangannya snediri

ya, serupa dedaun yang dilempar angin ke tengah lautan
kau menyusuri nasib dengan begitu lain, dengan segala kegaiban
mimpi yang tak perlu mempersoalkan amsa depan

di sana di luar dunia ini, tukang parkir menjadi perkasa
merdeka dari segala, kau telah tuntas memangkas hidup yang keras
menuju keabadian di mana suka dan dukalara tak ada beda

Baca juga:  Kibar Labar Nelayan - Sabe - Nda

kau pejuang, kau dikenang
jasamu menertibkan kendaraan dan lalulintas
adalah utang segenap insan.
Kutub, 2015

Dinihari

malam masih membangun gelap, embun turun dari dedaun ke akar pohon
semua terlelap, semua diam; lampion, trotoar, bus kota, botol aqua
beserta mataku yang menyimpan kekosongan suasana

sepikah ini, puisikah?
tuhanku adalah guru yang selalu memberi jawaban dengan terlambat
seperti tak ada apa-apa
denting musik, gesekan plastik, derit pintu menjauh ke luar diri.

Simulacra

manusia adalah simuklasi arus tenaga listrik
bisa jadi sapi, juga bangau dan comberan
manusia adlaah kenyataan sebuah virtual
dari macam produk kecantikan yang konon
paling tolol di zamannya

Baca juga:  Catatan dari Warung Kopi - Setelah Bangun Tidur - Di Bawah Sepi Aku Berlindung dari Kerlingmu

demikianlah kemungkinan alam raya
benda-benda yang tak perlu dipercaya
demikianlah kesaksian
cinta yang terlempar dari hakikatnya

Di Tanah Kesepian

di bukit-bukit yang hijau
di ladang-ladang yang panjang
di jalan setapak yang berliku dan
penuh kerikil, kusimpan perihku

kubangkitkan tabahku di rumah-rumah tanpa pintu
di halaman tanpa mobil dan tiang listrik
kulempar senyumku pada lumut-lumut di tembok
pada daun-daun yang gugur
dengan nyali semoga kau tak bosan
menghirup udara tanah kesepianku

adakah matamu masih bara?

Baca juga:  Suatu Pagi di Peshawar - Banjarnegara - Maritim

di mana-mana ada kesepian
di mana-mana ada kegundahan

ke langit aku titip segala
gang-gang sempit, kaca pecah
plastik-plastik, dan ranting patah
di bumi aku tetap simpan kesepianku
hingga aku buta, menyaksikan
perputaran kemarahan di matamu
dan orang-orang muslihat yang memperpanjang khianat.

Anwar Noeris: lahir di Sumenep Madura, bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anwar Noeris
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 31 Mei 2015