Ujung Pedang – Orang Singkuang – Monolog

Karya . Dikliping tanggal 17 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Ujung Pedang

nasibmu ada di ujung kilatan pedang tajm,
jauh sebelum salib tersangkut di dinding katedral,

seperti batang tubuh sepeda tua yang menggigil,
usai dibenamkan ke sungai yang timbul tenggelam

kaulah nasib yang tercatat dalam kitab masa lalu,
aku perahu kematian, yang siap bertolak membawamu

telah kuundang para penujum di kampung ini,
untuk menandai isyarat di kerut keningmu

lalu kauserulah para datu, agar memanggil begu,
yang kerap menyekutuimu dalam mimpi buruk

sebab begu tak akan bisa sebagai pelindungmu,
sebab geletar yang tumbuh di kerjap matamu kelak

sebentuk gabak hitam di kerampangmu,
yang dihembus-hembuskan para datu

Baca juga:  Hujan Pertama - Lonceng Mereka - Kopi

dan nasibmu pun telah di ujung pedang,
yang tersangkut di tiang salib yang gaib,

seperti sebatang tubuh sepeda,
yang menggigil putus asa.

Pekanbaru 2015



Orang Singkuang

bagaimana kami menetau-menebas rimba,
sedang dalam diri kami masih ada suara,
auman beribu ekor harimau bermata tajam

harimau yang juga kerap mengaum dalam dadamu,
suara yang menggetarkan para penghuni kampung,
mulai orang mudik dan orang di hilir kuala yang murung

dan sarang burung walet di Si Barasok,
tak cukup membuat mata kami berkaca-kaca,
sebab hanya membikin kami berputih mata

lantas akan kami bekap dia, Angku,
dan kami seru pada datu,
kami seraya dukun kampung,

Baca juga:  Seumpama Kata - Menyusu di Puisi Ibu - Ihwal Cerita Pendek - Riwayat

kami minta petunjuk darimu;

wahai harimau, pukimak kau!

Singkuang-Pekanbaru, 2015



Monolog

aku ingin bersaing dengan andalkan taring,
maka kukuakkan segala tenaga hening

kucupakkan papan penghambatnya,
agar tercabut paku dari kerampang palu

dan gigi gergaji telah siap tubuh begapnya yang ingin,
sesegera mungkin mengigit dadamu yang masih dingin

sebab pertarungan bukan sekadar umbar,
tangan kanan-kiri yang panas bergeletar

dan kau tentu paham bagaimana membaca siasat,
bagai isyarat yang pernah diwahyukan sebentuk tongkat

terbekatilah linggis yang dikultuskan bagai malaikat,
pencabut ruh dalam tubuh paku yang lekat dan erat

Baca juga:  Bacalah Kitabmu

terkutuklah palu yang dibabtis,
sebagai penghunjam dendam paku

maka kau pun berdoa serupa nada sabda:

“berilah aku seratus empat belas surat,
separuh di tangan kanan, separuh di kiri,

biar terberkati segala yang sakit,
sebab sungguh berat ayat-ayat ini”

Pekanbaru, 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya May Moon Nasution
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” 17 Mei 2015