Waktu – Pada Sepertiga Malam – Perahu Napas – Malam Pendakian

Karya . Dikliping tanggal 31 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Waktu

: G Nuari

di luar sana manusia
saling sibuk menerjemahkan waktu
hanya saja aku masih penasaran dengan batu
mengintip retaknya mengendus baunya
mengenali jerit siapa terperangkap
beku di dalamnya
jauh lebih ke sana
manusia makin saling sibuk
mengalihbahasakan waktu
membangun rumah bagi musim
mengikat kelebat bayang jadi patuh
meskipun aku masih ragu dan lebih meyakini diam
menimbang beratnya
mengukur leher heningannya yang panjang
mengenali napas siapa tertinggal
di sini, di dada moyang purba
2014

Pada Sepertiga Malam

bulan putih di pangkuan musim
dingin kemarau hampir berakhir
saat angin menjelma perahu di ketinggian
dalam lubuk kau menjelma bintang layang-layang
dan kita berlayar ke selatan
berpeluk ombak
menempuh ujung gelap
di bawah jemari waktu
yang bangkit memainkan benang
berdua kita berenang di sepertiga malam
menyelami laguna bawah sadar
menjelma sunyi di kedalaman
2014

Perahu Napas

lelaki duduk memangku laut tiada
selain menyeberangi nasib di kejauhan
bersama angin. angin utara yang berhasil turun
membawa perasan jantung perempuan bukit
menuju arah pantai
sendiri ia berbisik
merangkum masalalu
melipat bangku kosong dan cerita hantu
sementara waktu perlahan karam
merapikan angan-angan
bersamanya perahu napas berlayar
melampaui tubuh dan pikiran
batas diam antara lubuk dan jantung laut
yang pecah membawa ia pulang
ke tugur masa depan
2014

Malam Pendakian

angin sepasang berpagut naik
sunyi paling depan membuka jalan
malam pendakian
di langit memar jiwa menjelma tangan
jarinya menusuk nyeri lebih kedalam
membangunkan doa-doa lama yang tertidur
dada yang kurus
punggung yang nyaris putus
tahun membungkuk mengubur puncak zaman.
di hutan lemah aku menggali mencari pegangan
doa pengampunan
akan dosa dan puisi
serta rindunya bertemu napas
setelah mati
2014
Rabu Pagisyahbana, lahir Purwokerto pada 1988, besar di Cirebon, dan kini menetap di Yogyakarta, dan bergiat di komunitas Ngopinyastro dan Sanggar 28 TERKAM. Buku antologi puisinya Perahu Napas (Interlude, 2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rabu Pagisyahbana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 31 Mei 2015