Bersampan dengan Pecahan Kapal – Berjoged di Atas Titian Lapuk

Karya . Dikliping tanggal 14 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Bersampan dengan Pecahan Kapal

Badrul Mustafa memasuki setiap pasar,
Hondoh-posoh sendirian,
Dari senin sampai minggu,

Ia simak lagu penolong teman seiring,
Tingkah-bertingkah si penjual buah
Bersama penjual pakaian dalam,
“Belilah di sini, oi sanak saudara,
Beli pisang pepaya atau semangka,
Tapi bungkusnya, oi sanak saudara,
Bungkusnya mestilah beli
Pada kawan sebelah….”

Dan ia dengar dendang si anak tukang rabab
Berperihal nasib yang akan datang,
“Oi hujan oi, kalau basah ya basahkan saja,
Jangan dipisahkan pula bunga dari tangkainya,
Oi malang oi, kalau datang ya datanglah saja,
Jangan disudahkan pula kami lima bersaudara….”

Badrul Mustafa memasuki setiap pasar,
Garebeh-tebeh seorangan,
Dari pagi sampai sore,

Ia tidak mencari sepatu kulit buaya,
Topi moris, atau baju kemeja
Dengan kancing terlepas di atasnya,
Seperti yang dipakai bandar judi pacu kuda,

Baca juga:  Ciwidey - Bajigur Balubur

Dan tidak juga mencari gincu merah delima,
Anting-anting dari tempurung kelapa,
Atau pengharum dari bunga cirit ayam
Seperti yang dipakai biduan bersuami tiga.

Seorang Badrul Mustafa
Cuma mencari benang sehelai,

Tapi meski dapat olehnya benang sehelai,
Yang kata orang, bisa dipakai untuk
Mengikatkan pengana ke badan,
Atau untuk membawa pulang
Si adinda yang sudah lama pergi berjalan,

Seorang Badrul Mustafa
Hanya akan pakai itu benang sehelai
Untuk mengiringi Nyonya Janda
Berjoged aduhai sampai malam usai.

Limau Manih, 2015

Berjoged di Atas Titian Lapuk

Pulang dari sebuah perang,

Badrul Mustafa menemukan
Sebatang pohon kelapa
Tumbuh di dalam rumahnya,
“Katakan padaku,
Utusan dari abad berapa
Yang menanammu di sini?”
Ia bertanya
Pada pohon kelapa itu.

Baca juga:  Balada Sandal Putus - Membunuh Pujangga Istana - Rubaiyat Kopiah Anak Dagang - Jalan Pulang Orang Suluk

Tak ada jawaban.

“Atau aku harus menjadi
Seorang Padri tak berbini
Yang pedang bawaannya
Gampang berdiri sendiri,
Lantas membuatmu
Merasa ditebang
Berkali-kali?”

Pohon kelapa itu
Masih saja bungkam.

“Atau aku mesti menjadi
Pewaris tunggal dari
Datuk Nan Maraso Ebat Surang
Lantas menebas
Setiap buah kelapa
Yang baru bertunas?”

Tak ada jawaban.
 

Badrul kini menggoreskan pedangnya
Pada batang kelapa itu –

Memberikan sepasang mata,
Sebuah relief untuk tatapan kosong,
Dan senyum yang terlalu lebar.

“Sekarang,
Bicaralah padaku,” katanya.

Pohon kelapa itu tetap saja
Diam.

Badrul kembali menggoreskan pedangnya,
Memberikan beberapa tanda
Yang maksudnya:
Aku tak mendengarmu!

Baca juga:  Pada Suatu Hari

“Baiklah, baiklah,”
Kata Badrul,
“Kuberikan sepasang
Telinga sederhana untukmu.”

Pohon kelapa itu
Tetap tak mengatakan apa-apa
Meski Badrul Mustafa
Sudah berkali-kali membisikkan
Sebait sajak lama,
Dalam versinya sendiri,
Sebisa mungkin,
“Sesuatu yang sudah Wau
Dan kuharap kau membikinnya jadi Alif…”

Ia kembali menggoreskan pedangnya.

“Aku akan menyiksamu sepanjang hari,”
Ancam Badrul,

“Sampai kau mencintaiku.”

Pauh, 2015


Heru
Joni Putra
lahir 13 Oktober 1990 di Payakumbuh, Sumatera Barat.
Menyelesaikan kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Andalas.
Kini bergiat di Ranah Teater dan Komunitas Kandangpadati, Padang.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heru Joni Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 14 Juni 2015