bersiap menonton ludruk – mengenang nyi demang – galogosakti mengejar caluring

Karya . Dikliping tanggal 14 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

bersiap menonton ludruk

adalah bersiap bersetia
sebab malam mempunyai bujuknya
sendiri dalam kantuk, nyamuk, hantu
perokok tanpa kepala, dan ancaman
pencopet yang keras kepala
dan hanya dia yang memiliki hati teguh
akan bersungguh tetap duduk
berkemul sarung di depan panggung
dan bersiap menonton ludruk
adalah juga bersiap berduka
sebab pahlawan-pahlawan lokal
akan meninggal di tangan serdadu kolonial
selalu,
dan perempuan-perempuan yang tidak
sepenuhnya perempuan akan melolong
dalam luka yang dalam, dalam sedalam-dalamnya
dalam, selalu

tapi ada saja yang lupa, senantiasa
bahwa bersiap menonton ludruk
adalah bersiap kecewa
sebab tawa
yang ditanam dalam lawakan
kerap terbawa dalam setiap kematian
di sepanjang alur lakon
dalam segenap airmata yang diandaikan
menggenang di mata para perempuan
yang tidak sesungguhnya perempuan itu,
senantiasa

Baca juga:  Savonette

mengenang nyi demang

hanya pada apa yang dijaga hari lalu
ia menyandarkan degup jantung dan
denyut nadi, mencegah silet terbenam di
pangkal telapak tangan, atau tali membikin
bilur biru di tengah leher

leher yang di hari lalu itu
berulang menerima cupang
dari dua lelaki yang mengingininya
(tapi hanya satu yang diingininya)

apus telah telanjur jadi suling
dan bunyinya terus-terusan mengirim sakit

telah ia tinggalkan satu lelaki
yang mengingininya
demi lelaki yang diingininya
dan yang kini mengingini putri lain
dalam lakon lain

dan ia tidak tahu
bagaimana menemukan celah
untuk masuk ke dalam lakon lain
menagih apa yang dijanjikan padanya
selain dari apa yang dijaga hari lalu
ia tidak tahu bagaimana mesti berjaga, bertahan
dan terus berjalan

Baca juga:  di panggung - di malioboro - pergi ke yogya

galogosakti mengejar caluring

galogo tahu
hanya maling yang bukan
maling sekedar
berani mencari dan mencuri
detak nadi brawijaya yang tengah menari
dan sesumbar mengumbar
tantangan pada segenap jagal, pemuda
bengal upahan
serta barisan begal
majapahit yang sekali waktu pernah terlibat
dalam genosida bubat

galogo tahu
memburu caluring ke barat,
ke arah konon si maling mencelat
adalah memburu suatu semu melulu

dan hanya dari prapanca
ia pahami ke mana mesti bergerak
sebab hanya dari prapanca
ia belajar etos mengejar bahasa

“hanya dalam puisi-puisi
kata-kata yang bukan kata-kata sekedar
dapat dikejar dan diajar”

pergilah ke timur galogo, pergilah
ke timur, aguno,
ke khazanah puisi-puisi yang nyaris dilupakan
ketika segenap mata semata
dipenuhi kosakata dari barat jauh, barat
hampir sampyuh

Baca juga:  murdaningrum - patih setama - banjaransari - nyi setomi

dan ke timurlah galogo mangkat

dan di timurlah aguno memasang jerat
memapak untuk memasung caluring
bersebelahan dengan prapanca
yang memukat kata dengan mata berkilat

Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Puisinya antara lain termuat dalam antologi Pasar yang Terjadi pada Malam Hari (2008).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada Juni 2015