Hikayat Musafir – Di Titik Nadir – Mengenang Cinta – Puisi 9 Suku Kata, 9 Bait Kata – Balada Musa – Tidak di Tempat Lain – Bunga Mawar

Karya . Dikliping tanggal 7 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Hikayat Musafir 

Musafir tua berjalan tertatih di depan
rumah Tuhan
sejenak ia berdiri mematung di emper
dengan wajah datar tatap matanya sayu,
tertuju ke arah mimbar pengkhotbah

“Sering kali kudengar kebenaran begitu
deras mengalir dari mimbar itu,
namun kabut ragu kaburkan segala
pendengaran serta pandangan kalbuku
entah karena lumpur dosa, atau perihal lain
selain dosa?“

Ia menjejak dengan kaki gemetar,
luruh dalam pasrah jiwa di antara sujud,
gemuruh sesakkan dada saat air mata
jatuh berlinang
tak ada embus napas.
Roh berhijrah setelah lama singgah

Yogyakarta, 1 Juni 2015 

Di Titik Nadir 

Rasa sakit itu bukan karena hantaman
benda dari luar
pesakitan itu lahir dari semesta pikiran
lalu keruhkan hati
lantas, bagaimana penglihatan jiwa
sedemikian awas bila segala memburam?


Oh, betapa kegelapan telah memicu gerak
asal langkah kaki
bila kosong meraja, mata membuta, dalam
penglihatan hanya gulita
arah tak lagi ada, roboh diri terasa begitu
nyata

Tajam atau tumpul, tentu, bagi penglihatan
buta adalah sama
gelap dunia takkan tampakkan beragam
warna ruang selain hitam
kegelapan hanya memberi rasa takut,
ketidaksadaran, serta mara bahaya

Yogyakarta, 1 Juni 2015 

Mengenang Cinta 

Kau tahu, tak ada kepedihan begitu
mendalam selain mengenang
cinta yang telah pergi. Ia begitu getir,
begitu satire.

Baca juga:  Kisah Empat Gadis Pemilik Perahu - Sang Pengabul Mimpi - Tak lagi Milikku

Bagai daun gugur ketika embus angin
mengantar kabar kematian
begitulah seluruh rasa jiwaku turut
luruh bersama tabuh genderang

Bagaimana kaki berjalan bila hati
dirundung pilu tak berkesudahan?

lihatlah linang air mataku ini!
Ia lebih deras dari gerimis

Tak usah menabur bunga bila kenang
semakin luapkan rasa
biarlah apa yang bertahan di dada
membaja sepanjang masa

Kau hanya perlu tahu bahwa mengenang
cinta teramat sakit.

Yogyakarta, 24 Mei 2015 

Puisi 9 Suku Kata, 9 Bait Kata 

Ia lahir dari beragam luap rasa
lalu muwujud kata
mengalir lembut dalam pikiran
lalu luruh ke lubuk jiwa
sinergi kenyataan dan keindahan rasa
imaji dalam madah menawan

Ia lahir atas perenungan mendalam
dari titik nadir semesta
bukan sekadar susunan abjad tak bermakna
namun petualangan rohani
mengurai segala kemelut agar lurus berjalan
menuju hakikat Ilahi

Ia lahir dari cahaya nurani
dan ketajaman logika insani
agar tercerah segala gelap
sisi-sisi dunia dari ragam nista
ia adalah puisi 9 suku kata, 9 bait kata.

Yogyakarta, 25 Mei 2015 

Balada Musa 

Di tangan Firaun, batang kayu takkan
menjadi seekor ular
jiwa-jiwa Firaun hanya ingin batang emas
dan beragam perhiasan
batang kayu hanyalah muslihat
para penyihir untuk kesenangan Firaun

Baca juga:  Episode 4; Daun Gugur - Gandrung Dasamuka - Kecubung Air

Bagi jiwa-jiwa Musa, sihir dan mukjizat
tentu sangat berbeda
sihir adalah tipuan semata, sedangkan
mukjizat adalah hakikat kebenaran
para penyihir tak berdaya karena lumpuh
akal dan jiwanya

Bukankah dengan mukjizat, tongkat Musa
mampu membelah Laut Merah?

masih adakah ketakpercayaan bagimu atas
tenggelamnya pasukan Firaun di sana?
bagi jiwa-jiwa Firaun, batang kayu bukanlah
mukjizat melainkan dusta.

Yogyakarta, 25 Mei 2015 

Tidak di Tempat Lain 

Aku mencarimu di tiap waktu,
tak kutemukan selain pergantian
tiap kali kucari dalam tanya,
buntu kudapat sebagai jawaban
ia tak juga kutemukan dalam gerak kasat
jasad ini

Telah kucari hingga di ketinggian,
tak juga menemu jawaban
bahkan ke segala arah kujejak,
tak juga menemu jawab
selalu kosong kudapat dari tiap tanya
atas keberadaan itu

Rupanya pencarianku masih sebatas kulit,
bahkan paling luar saja
hakikat hanya dapat ditembus dengan
makrifat, atau secara sebaliknya
pencarian jasadi hanya akan berakhir pada
batas lelah raga

Yogyakarta, 1 Juni 2015 

Bunga Mawar 

Bila kau tak ingin tertusuk
duri dari bunga mawar
usahlah mencium aroma wangi yang
bertebaran di hamparan udara
kau akan lemah terkapar
karena racun dan kehabisan darah

Baca juga:  Waktu Bercinta Belum Usai - Daun Yang Luruh Di Pangkuan - Madah Gila

Duri hanya melunak bagi hati
yang dipenuhi cinta kasih
ia adalah simbol kebahagiaan dan kesedihan
bagi sepasang kekasih
aroma wangi adalah kebahagiaan,
sedangkan duri adalah pedih perpisahan

Biarlah sunyi mengilhami kosong pikiran
untuk menuang isi hati
bila embus datang membawa pesan,
kutitipkan bait puisi untukmu
tiap tetes tinta, ada liris rindu
dari palung jiwaku 

Yogyakarta, 24 Mei 2015 
Anam Khoirul Anam, novelis dan penulis puisi, kelahiran Ngawi, 26 Juni. Karya novelnya, Dzikir-dzikir Cinta (2006), telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu pada 2008. Saat ini, ia bergiat dan mengasuh komunitas literasia AKAR, Sleman.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anam Khoirul Anam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 7 Juni 2015