Iman – Layar Kaca – Baju Takwa – Sajak Kepompong – Sajak Ulat – Sajak Kupu – Tatapan Kosong – Yang Terukur dan Yang Terulur

Karya . Dikliping tanggal 28 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Iman 1

pagi hilang matahari
siang hilang bayang
malam hilang sunyi
puisi hilang diksi
iman hilang Tuhan!
2013

Iman 2

bertanya sama dengan ragu
mengapa aku masih terus mempertanyakan??
2015

Iman 3

jangan-jangan yang aku sembah
bukan yang sebenarnya Tuhan?
2015

Layar Kaca

jangankah barang kapital
bahkan pedih rintih derita kemanusiaan
juga hantu dan tuhan
telah lama dijual obral

Baju Takwa  1

tren mode semata 
2015

Baju Takwa 2

dipakai saat bulan puasa
jumpa penggemar, audiensi
jadi tersangka
dan di depan konstituen saat kampanye tiba!

Baju Takwa 3

milik satu-satunya
tak pernah dilepas dan dicuci

Baju Takwa 4

kian lusuh kian berwibawa dan percaya diri

Baju Takwa 5

ketika dilepas, ketahuan belangnya!

Baju Takwa 6

“bajunya silakan masuk
tapi tolong, tubuhnya tunggu di depan pintu”
kata malaikat penjaga surga

Sajak Kepompong

bertahan dalam lapar-dahaga, tabah dalam
ejek-hinaan
pasrah dalam doa dan kesabaran, yakin dengan iman jiwa
mampu mengubah keadaan!

Sajak Ulat

aku tak terpikir menjadi kupu
tetapi sadar, hidup tak selamanya melata, menjijikkan
jadi bahan olokan, hinaan dan tertawaan!

Sajak Kupu

meski terbang tinggi
kupu tak pernah lupa, asal mula keberadaannya
maka ia kmbali hinggap di dahan-dahan
rendahan, risikonya tertangkap
masuk perangkap!

Tatapan Kosong

siang, lemas, lapar dan dahaga
berdiri menatap cakrawala, gunung, awan, dan  pepohonan
diam tanpa senyuman
seperti sengaja dihapus dari jejak cuaca
di mana sepotong bibir ranum dan lentik mata itu?!
2014

Yang Terukur dan Yang Terulur

Yang terukur dan yang terulur
nasib dan usia, juga Tuhan
misteri
antara percaya tak percaya!

Yang Terhempas dan Kalah

pelajaran dari kejatuhan Adam
saat terhempas atau kalah
ingat Tuhan

Yang Merintih dan Menangis

tangis rintih, belum tentu ekspresi kedalaman hati
jangan-jangan air mata buaya

Yang Ngakak Tawa

ngakak tawa, sering bukan ungkapan bahagia
tapi kamuflase beban jiwa
karena kebahagiaan sempurna
justru meledak dalam tangisan

Keyakinan

palu godam kemalasan, kebodohan kepasrahan
kenekatan dan kerusakan!
Ketaatan Ibadah
ubahnya transaski hukum dagang
lebih sering mengitung jumlah keuntungan
ketimbang iman dan ketulusan

Kesempurnaan

tak ada telur yang penuh isinya
Sang Pencipta menggelar alam, memberi ruang usaha
menyempurnakan ciptaanNya
Pelajar Sehari-hari
ungkapan dan ekspresi agama, lebih sering
untuk budaya dan citra
ketimbang keyakinan kepasrahan jiwa

Narsisme Orang-Orang

zakat dan sedekah, lebih sering sebagai
ungkapan
narsisme kaum borjuis
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Otto Sukatno CR
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 28 Juni 2015