Izlude – Payon – Prontera – Moroc – Alberta – Geffen – Aldebaran – Ghast Heim

Karya . Dikliping tanggal 21 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Izlude

Waktu kota ini seperti memadat
dan dibangun dari batu-bata,
ketika kau lahir dan seketika tahir
oleh nyala api di pangkal lidahmu.
Sejumlah sabda hilang arah, seperti
domba yang berpisah dari kawanan,
meski hari ini tak ada yang disematkan
pada baju zirah, tak ada yang diselamatkan
oleh darah maupun lecutan amarah.
Apa cinta juga mengenal mula-mula
jika aku berjanji datang sebagai sunyi
yang mengharumkan tubuh peziarah?
Apa kerikil dihaluskan, duri dipatahkan,
hati dipulihkan, jika kau kupugar lagi?
2015

Payon

Kusisir jantungmu, tersaput daging lembut
sewarna tabut, aku pembaca detaknya.
Kuiris bibirmu, merah daging buah ceri
menerbangkanku ke langit bulan baiduri
kekalkan gelap yang tak menusuk mata.
Ujung pisauku berkilatan dalam tidurnya,
memimpikan menciummu sekali lagi.
Kota ini, hiruk-pikuknya memulut getah:
meninjau pukaumu, menghijaukan lukaku.
Kusisir rambutmu, regang busur pemanah
mengawasi hari lalu yang terikat di surainya:
aku lesatan anak panah yang meleset itu.
Kuiris pipimu, di gigirnya jalan bukit berbatu.
Hanya aku yang tahu ceruk sumber airmu,
untuk mandi, dan melepas lelah ribuan kali!
2015

Prontera

Jangan kau gelengkan kepala kencana itu,
Samudra akan terbelah, menelan arwah.
Sedangkan aku lupa sendengkan telinga
mendengar dadamu, suaka segala suara.
Akulah anak yang menanti kepulanganmu.
Makamkan, makamkanlah keras kepalaku.
Pecah-pecahkanlah ke dalam tempayan suci
Simpan jadi arak madu sari masa mudaku!
Akulah anak pertama yang mengeras
di jeda antara kusen dan jendela.
Ketika arak-arakan mega menyusut
dan kabut seperti enggan menjemput.
Dengan sisa tenaga aku akan berseru
ketika tak ada lagi darah lembu
yang dilumurkan di pintu rumah kita.
Ketika kesulunganku tak lagi berdaya
mendaki halus punggungmu, gagal
mengail-memanggil sunyiku: Ibu!
2015

Moroc

Kularikan diriku ke pasar-pasar dunia. Kususutkan bobotku menjadi kapur,
perunggu, kemenyan, maupun mur. Aku hanya berbekal nyanyian ibu
untuk berlindung dari ular derik, kadal gurun, dan kalajengking api.
Aku hanya mengingat wajah ibu, kail bagi kaul masa mudaku:
Aku ikan yang pernah bahagia berenang dalam encer susunya.
Akulah pejalan itu, pemilik kaki sang ular sebelum dikutuk Tuhan.
Cintaku panas temurun angin gurun. Tatapan kosong para kasim.
Adakah lindungan dalam kemah berpasir, dalam sunyi yang berdesir?
Masihkah tanganmu terampil mewiru degup jantungku
jika aku pulang tapi mataku gagal jadi cindera-matamu?
2015

Alberta

Usiaku menumpahkan cat laut ke matamu.
Sesungguhnya ia tak benar-benar biru.
Aku awasi dari mercusuar pelabuhan ini,
Abu-abu yang nyaman: semesta pikatan.
Usiaku menempuhkan ombak laut ke tubuhmu.
Membuat tuhan-tuhanmu menggigil, berlepasan.
Aku kristalkan waktu yang mulai bergaram itu,
gelombang asin jantungmu: tanjung peraduanku!
2015

Geffen

Pepohonan willow dan buhul akarnya
mengepung kita. Seolah terikat bahasa
dan kegentaran pada maut tidaklah cukup.
Mata ungu hantu sabana menenggelamkan
bulan yang bertengger di dahan mimpiku,
telah putus dendang dan ngiang orang seberang
telah tandus tanah garapan penanam kentang.
Kita terkepung, atau mungkin malah terapung?
Dalam dunia yang tak jelas batas laut dan darat
Dunia samar antara melangut atau mengurai penat.
Salju jam tiga pagi menggigilkan cahaya neon
dari rumah para goblin. Kau sajikan daging kalkun
berlumur minyak zaitun dan sesayat mantra
untuk membatalkan sakit dan kepergianku.
Padahal akulah pencuri itu, ular tembaga
yang meremukkan seluruh tulang rusukmu.
2015

Aldebaran

Bau karat ini dicintai hidungmu.
Hidung yang ingin tahu bau
kabel terbakar, tembaga, dan bahasa.
Bau karat ini dicintai hidungmu.
Kerelaan baru yang semerbak akibat
terpikat sari jamur dan derai hujan.
Akankah kita kembali menyatu
Jika sang penempa agung
menatah lamunan-lamunan kita?
Seperti ketika meruncingkan Stiletto,
memejalkan Claymore, dan menubir
racun ungu di mata Masamune.
Akankah ruh kita menyatu
Jika lidahku menikam lidahmu?
sebelum kita lebur dan luber lagi
dalam pelat-pelat nasib yang
pasrah dicumbui kibar kobar api.
2015

Ghast Heim

Ke mana gentar ini mengadu jika arwah prajurit berkuda
terus menyemai wangi maut yang serupa bunga kenanga?
“Kematian pun bisa wangi.” Aku mengingat ribuan pelayat
menyesali kakunya jenazah itu. Entah budi baiknya belum lunas.
Atau hutang budinya belum tuntas. Apa yang lebih pantas?
Ke mana gemetar ini menyaru jika prajurit-prajurit alam baka
siap menikam jantung yang tak mengalirkan sebuah puisi?
Tak ada yang lebih sia-sia dari takut merasa ketakutan.
penghormatan kepada kehidupan hanya menderas
jika riak kematian sudah beringsut sampai ke urat leher?”
Menyambut kematian juga membutuhkan kuda-kuda, yakinmu.
“Seperti pendekar yang siap berlaga, seperti cinta yang dewasa.
Seperti semua hal di dunia yang bisa menerjang dan merajang kita.”
Dan ajal tampak ketika kau bermandikan matari: bayanganmu.
2015
Adimas Immanuel lahir di Solo, Jawa Tengah,8 Juli 1991. Kumpulan puisinya bertajuk Pelesir Mimpi (2013). Kini ia berdomisili dan meneruskan studi di Jakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adimas Immanuel
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 21 Juni 2015