Kota Membaca Nadiku – Rekaman Masa Silam – Ini Hari

Karya . Dikliping tanggal 14 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Kota Membaca Nadiku

Kota-kota bergeliat membaca cemas nadiku
orang-orang bergeliat juga menjadi benda-benda
lenyap dalam mata, terombang-ambing asap pelat
dari sudut-sudut restoran yang selalu riuh
diperkosa dalam pejamnya
Malam tidak lain seringkali anjing kota
yang malas mencabik irama bulan
bergerak merayap tanpa netra membawa senjata
dalam gelap menikam, membuat peta,
meniup lilin sebagai mula peperangan
dan semua benda dicat dengan merah darah yang ekring
Aku hanya melihat mulutku yang bungkam
dalam gulita udara, lalu kubiarkan terombang-ambing
panasnya memanggang
dan di dalam cermin, nuraniku merintih sebegitu dalam
kering dan perih karena kota-kota bergeliat
membaca kecemasan nadiku
Vila Bogor, akhir 2014

Rekaman Masa Silam

Kita di jagat yang menggelapkan semua netra
di dalam diri undakan-undakan udara berserbuk
anak-anak menggigil
di jalan-jalan semua arah dibengkokkan
musim-musim meleleh
Cuaca senantiasa dingin; kita menggigil
dan melahirkan api yang mengabukan semua orang
kesunyian tercipta di antara kita
bak ceruk-ceruk amat terjal
lorong yang gulita sarat kabut
yang mengisolasi bingkai waktu hingga tak dikenali
kita tak bisa menerka jejak dan membaca tanda-tandanya
juga anak-anak kita
2014

Ini Hari

Ini hari mentari melelahkan air mata
Dikarenakan bulan kekasihnya sudah mati
Dipanah seorang gelandangan
Yang iri lihat kecantikannya
Ini hari emntari pucat
Bumi separuh ajal
Dan malam-malam senyap kubangun rumahmu
Dari rohku
Bisik apa yang terlahir dari cakrawala
Saat keberangkatan sudah dijadwalkan
Segenap amsa silam menyeruak bersama waktu
Yang sudah bongkok
Mimpi-mimpi yang besar kepala
Berkelebatan meratapi hari esok
Ke mana perginya angin, sungai, dan labuh eprahu?
Saat keberangkatan sudah dijadwalkan
2014
Hetti Restianti, ibu rumah tangga dan alumnus Sastra Perancis, FIB, Universitas Padjadjaran
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hetti Restianti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 14 Juni 2015