Kuda-Kuda Shindu – Vairagya – Rohingya – Ashin Wiratshu

Karya . Dikliping tanggal 7 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Kuda-Kuda Shindu

seseorang dpaat pergi
ke tempat yang belum pernah
didatangi: nibbana*
ia yang sibuk menunjuk-nunjuk
sesuatu yang tak tersentuh
dalam pikiran dan angan-angan
barangkali telah mengerti
betapa hutan dan jalanan
adalah derap kuda-kuda Shindu
yang bisu dari bahasa puisi
betapa aku, juga pertapa itu
sebenarnya tidak di sini
bersila di bawah pohon dunia
abadi dalam sepi,
abadi dalam samadi
Gowok, 2015
*Dhammapala 323

Vairagya 

Setelah merenungi betapa hidup
tak hanya desah akhh yang sementara
ia memutuskan pergi ke hutan
tengadah ke langit cerah,
menatap matahari itu
dengan nyala mata yang utuh
betapa kecamuk itu
telah sempurna dalma tapa brata ke seribu
berhentilah!
kata pendita suci yang tiba-tiba hadir
menyeruak dari badan hutan
tapi ia tak juga berhenti
ia tegak bagai pohon-pohon hutan itu
diam dalam angin, dalam sinar bulan
Tuan, saya bukan seorang yang telah
mengetahui Atman.
Saya mendengar Tuan adalah Pendeta
yang benar-benar mengetahui Atman?
Cahaya perak itu, seperti juga terjaga
dari tubuh resi
menunjuk-nunjuk sesuatu
di luar hidup, di luar bahasa puisi
Kutub, 2015

Rohingya

Tangan Tuhan, tangan bicah itu
kepal berlabuh, ribuan tubuh hilang kisruh
Kami orang-orang kalah
lahir dari peradaban yang lelah
suara kami, suara paling rendah
tak terdengar, tak juga beredar
di geladak kapal, di papan kayu itu
suara kami berlayar lesu
karena terik, karena rasa-lapar
melingkar-lingkar
di tengah laut
di tengah maut yang pucat
kami yang tersiksa, yang terpaksa
telah terkapar,
mungkin juga terlempar
dari hingar Myanmar yang mulai kabur
sesak kami didesak,
dipasak serentak hingga mabuk muak
mengapung-ngapung tanpa harapan
tanpa masa depan, tanpa kepastian

Ashin Wiratshu

Ingatlah baik-baik nama itu,
tidak sebagai bhikku,
jalan suci Budha,
atau angin pagi di Bengali
catat dan perhatikanlah puisiku
revolusi tidak dibentuk
dengan membengkuk
yang lemah dan yang tunduk
bendera jiwa dinaikkan
bukan untuk melumpuhkan
pembantaian dikibarkan
bukan untuk dibolehkan
tak ada jalan suci yang harus dipuji
jika ia tak sanggup diuji
dan senyum bijaksana Wiratshu
bukan ajaran, bukan pula kedamaian
Saifa Abidillah: mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogya, aktif mengelola Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Saifa Abidillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 7 Juni 2015