Menanak Nafsu – Bulan di Atas Ramadhan – Seribu Bulan – Roudhah – Tanah Haram – Thawaf

Karya . Dikliping tanggal 21 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Menanak Nafsu

Inilah tungku kalbu
Tempat menanak segala nafsu
Yang merengkuh segala pinta
Pada dunia

Api tak lagi panas dalam derita
Hanya pilu dan isak tersedu jua
Menyesali prahara cinta
Pada dunia

Malam tak lagi menakutkan
Karna tak ada lagi bayang-bayang kelam
Menempuh jalan pulang
Kembali ke pangkuan hasrat
Pada dunia

Sebelum airmata mendidih pada senja
Pada tanak terakhir semesta
Ramadan, 2015

Bulan di Atas Ramadhan

Meruwat bulan

Cahaya tanpa bayang
Rindu jatuh di tempayan
Pulang

siapa yang kerap memanggil?
Saat Gelap menggigil
Dingin yang pasrah
Pada angin
Ramadan, 2015

Baca juga:  Perjalanan Pulang - Garba Cahaya

Seribu Bulan

Aku mengejarmu penuh peluh
Dalam keriangan mabuk rindu

Aroma bunga dimana-mana
Ada lagu menyebar doa
Harap yang mengembara
Menyusup sampai Menara
Masjid tua
Ujung gang kenangan
Lama terlupakan

Mungkin malam ini
Menagih janji kembali
Ke pangkuan birahi
Sribu bulan mengabadi

Ramadan, 2015

Roudhah

Inilah taman syurga bagi kembara
Yang hilang jiwa dalam semak kelana
Mimpi terhempas dan luluhlantak
Bersama derai airmata beranak pinak

Sudah sampai pada batas kenang
Merengkuh salam pada cahaya
Di setiap kalimah yang disematkan
Pada rentang waktu
Kembali
Kembali lagi
Sampai tertidur di ujung lidah
Dalam lafaz di antara doa-doa
Madinah, Desember 2014

Baca juga:  Museum Masa Kecil - Pada Suatu Kamar Tidur - Monster dalam Sepen - Mimpi-Mimpi Llama - Menunggu - Nanti Saja

Tanah Haram

Butiran debu
Daki di kalbu

Kubasuh, apakah ini airmata
Penebusan pengganti cinta
Yang lama hilang dalam kenang
Di jendela renta langit terbentang

Lebur
Luruh
Hancur

Biarlah, jika itu maumu
Sandaran asa
Di tiap tiang malam
Gelap yang menghantarku
Pada terang
Pada kenang
Di padang cahaya
Saatku bergumam
Melafazkan kesakitan ini
Masjid Nabawi, Des 2014

Thawaf

Ini adalah lautan
Pusaran waktu
Tempat kembali mengasah nurani

Baca juga:  Di bukit kopi dan pohon sepi
Berputarlah membalik waktu
Kau takkan mampu kembali lugu
Di sini hanya berserah ragu
Dalam kegembiraan dan pilu

Bayarlah tunai setiap ikatan cinta
Dengan menciumkan dahi pada dinding
ruhani
Setiap amal berbalas kasih
Dari sunyi menuju keriuhan mimpi

Ah, aku ingin kembali menjadi bayi
Lahir dari rahim waktu
Ibu yang tak pernah cemburu

Makkah, Desember 2014

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Hazwan Iskandar Jaya 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Juni 2015