Orang Gila – Melawat – Menertawakan Kepedihan

Karya . Dikliping tanggal 21 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Orang Gila 

Aku baru saja tiba
Ketika mata cekungmu membagikan sesuatu
Di sisi luar pagar
Anak-anak kecil ramai, bergerombol seperti
menyaksikan pertunjukan kera
Sesekali berhamburan, saat kau mendekat
Namun, urung pergi

Mata adalah jendela jiwa
Tetapi tak juga aku mengerti
Ketika kaubuka
Hanya kudapati sekumpulan awan hitam

Mungkin kau telah memiliki duniamu sendiri
Membangun keindahannya di sana
Tanpa bisa kusaksikan
Dan dimengerti

Kau bergeming
Pun ketika anak-anak itu meneriakimu
Dengan senyum yang selalu terkulum
Beranjak kini dari halaman rumahku
Tanpa memberi tahu,
Apa yang kau bagikan lewat mata cekung itu?

Subang, Mei 2015 

Melawat 

Ingin aku ceritakan padamu
Tentang pertemuanku
Dengan bidadari kecil
Siang tadi

Baca juga:  Dari Rindu ke Pilu - Suratan Takdir - Masjid - Khianat

Ketika redup matahari
Karena beberapa mega berhasil menjaringnya
Panas punggung bumi pun mereda
Deru angin juga tak seliar sediakala

Bahkan kelopak kamboja terdiam
Saat tirai putih wajahnya disingkap
Seorang kerabat turun:
Azan dan Iqamah dikumandangkan

Di pintu taman surga ini
Kulihat senyumnya tenang sekali
Sebelum remah tanah
Rapat menutupnya
Gadis kecil, bidadari kecil

Subang, April 2015 

Menertawakan Kepedihan 

Aku masih di sini
Tanah
Air
Tempat aku lahir
Tanah aku sewa
Air aku beli
Tempat Aku ngontrak

Baca juga:  Negeri Tercinta - Surat kepada Keadilan - Revolusi Mental*

Berlaku manis
Menjadi kuli di negeri sendiri
Merangkak di selangkangan tuan-tuan kapitalis
Di mana uang lebih berkuasa atas penguasa

Maka,
Jangan heran kalau aku di penjara
Lantaran pisang setandan
Dimejahijaukan karena nyolong singkong
Menjadi pesakit karena nguntit sandal jepit

Aku hanya tertawa
Tentang wajah klimis garong-garong
tersenyum manis
Di televisi koruptor-koruptor jadi selebritas
Tipikor jadi dagelan, humor dan bisnis

Ah! Sekarang lagi di mana Tuan KPK?
Semakin gentar, semayup tak terdengar

Baca juga:  Kau Sedang Membaca Apa

Seperti suaraku
Memantul ke kuping sendiri
Semakin kecil
Menjadi kurcaci
Menggelikan
Ditertawakan

Subang, April 2015 

W Sugiarto, lahir di Brebes, Jawa Tengah. Dia sekarang tinggal di Pasir Bungur, Purwadadi, Subang, Jawa Barat. Aktif di Komunitas Dunia Karya Tulis (DuDek).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya W Sugiarto
[2 Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 21 Juni 2015