pancanaka – prawitasari – monolog cermin

Karya . Dikliping tanggal 21 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

pancanaka

nun, di sebuah halaman dari kitab usang, ada kisah
luka seorang bernama sena. menjadi lelana men-
cari pusaka bernama air penghidupan. ia menyeru-
pakan diri sebagai abdi. sebuah kesalikan yang
semestinya kita pelajari.
seusai mengarungi samudra yang wingit, ia menjadi
moksa, bertapa pada semesta, melawan raksasa
dan naga yang bersarang di kepalanya, dengan
kepalan, menunjamkan pancanaka, dan lautan
berubah warna, seperti raut selaksa makhluk kian
bahagia, sebab segala nafsu tak lagi berkelindan
menggoda.
atas nama ketakdiman kepada guru, ia beroleh
ridho dari segala penjuru. menemukan rumah abadi
untuk berpulang, menyudahi dada yang kerontang,
dengan air yang mengalir dari hilir kesunyian, dan
laku prihatin seorang pangeran. berolehlah kasuny-
atan dari Hyang Suksma Kawekas, diijinkan
berganti diri menjadi batara yang hatinya penuh
welas.
pustaka senja, 2015.

prawitasari

seumpama mengaji, aku mengawalinya dengan
merapal doa ke segala penjuru. sebab pintu adalah
permulaan dari setiap langkah yang akan kita per-
juangkan. setelah itu, telapak kaki diarahkan kepa-
da muasal kebenaran. agar wahyu yang dikete-
mukan menjadi penunjuk arah jalan pulang.
seperti dewaruci, aku mengawalinya dengan
berwudu, membasuhbasahkan dada yang kering
dan piatu. agar lelaku akan tinuju kepada alamat
yang satu. setelah itu segala tirakat akan diniatkan
mencari selamat. sebab air keabadian tak lain
adalah samudra di dalam dada yang suci dari nafsu
berkarat.
pustaka senja, 2015.

monolog cermin

demi kalender yang memucat, harus bagaimana
sikapku kepadamu, kekasih? bergantian aku dan
sunyi meniup waktu pelanpelan. demi mengingat
kembali bagaimana kau memelukku setiap
keberangkatanmu dan kepulanganmu. juga kesak-
sian atas namanama yang kau serapahkan di
depanku, juga pujian-pujian yang membuat
senyummu mengembang: dan mewujud pula
senyumku. aku bahkan tak mampu membuat jarak
seantara kita. sebab kau bayanganku, dan aku
adamu. kita satu. dalam labirin ingatan yang
kadang menyenangkan, dan kadang begitu
menyedihkan.
demi dinding yang bisu, harus bagaimana aku
melupakanmu, kekasih? bersama jarum jam yang
mematung itu, aku selalu menghitung pertemuan
demi pertemuan antara kau dan aku. bahkan aku
masih menghafal rencanarencana, dan
impianimpian yang selalu kau rapalkan tepat di
depanku-sembari menunjuk ke arahku dengan
matamu yang menyala. di sanalah aku menemukan
sebagian dari pencarian hidupku. sekalipun kau
mungkin tak pernah mengerti betapa kebersamaan
sungguh berarti.
demi apapun yang kausebut cinta. sudah kuberikan
semua waktu dan sepiku untukmu. untuk membalas
semua yang kau lempar lewat mata tajammu, yang
selalu menyorotkan alamat kerinduan. dan aku tak
kan pernah berhenti menuliskan semua yang kau
ceritakan, meski kini aku telah menemukan
kekosongan, sebab ragaku kini, hanyalah serpi-
hanserpihan kenangan.
pustaka senja, 2015.
Dimas Indiana Senja, nama pena dari Dimas Indianto S, lahir di Brebes, 20 Desember 1990. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan jurnal dan menjadi pengasuh komunitas sastra santri Komunitas Pondok Pena Purwokerto.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dimas Indiana Senja
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 21 Juni 2015