Apa Kabar Manusia – Perihal Pembunuhan – Di Rumah Sakit

Karya . Dikliping tanggal 26 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Apa Kabar Manusia

Apa kabar manusia. Kau seperti
apa saat ini. Apakah wajahmu
sudah kuning emas. Atau mungkin
hidungmu telah tak lagi berlubang.
Atau seperti apa lagi. Dulu, kita
sering berdansa. Di sebuah pesta
yang dikelilingi lilin-lilin. Ditaburi
berkilo-kilo es krim dan taburan
butiran keju. Tapi kini kau seperti
telah berubah. Kau seakan menja-
di manusia paling ragu. Apakah
abad ini terlalu memanjakanmu.
Bukankah kau sudah menjadi
manis. Kau sudah belajar banyak
mengenai teori bersenang-senang.
Kau juga sudah begitu hafal
mengenai riwayat napas-napas
yang panjang. Kau juga sudah
hafal rintangan lain, mengenai
dunia kecil dari lenganmu yang
tipis. Dari jari-jari tangan yang
senang memikirkan hatimu yang
sering kelelahan. Lalu, apakah kau
masih juga gemar menjadi raha-
sia. Seperti apa lagi ciri-ciri tubuh-
mu. Masihkah kau memilih untuk
sering melebarkan kepala. Kau
seakan sudah tidak tahu.
Bagaimana pula kabar ibumu.
Seperti apa dirimu saat ini yang
semakin ditinggalkan pacar-pacar-
mu. Mereka sering meneleponmu
setiap pagi. Dari suaranya keluar
jutaan nama kolam-kolam mati.
Sontak kau menangis. Setelah
telepon berakhir, sebilah rahasia
muncul dari pipimu yang basah.
Hidungmu tak lagi berlubang.
Mulutmu tergeletak. Kecurigaan
muncul, mengalir dari seluruh sisi
tubuhmu.
Upgris, Juli 2015

Perihal Pembunuhan

Kau tahu, pembunuhan membuat
dunia ragu menciptakanmu. Dulu,
kau mahir menolak sandiwara
yang muncul dari manusia-manu-
sia asing pemerkosa cuaca.
Karena ketakutan, mereka
akhirnya memilih untuk berganti
mulut. Menyulap lidahnya dengan
biji jambu yang mengaku sedang
kehilangan paru-paru. Lalu
selepas semua mengurungkan
niat untuk bertemu, mereka berlari-
an memburu petunjuk dari dada
batu-batu. Hingga akhirnya semua
lepas, menjinakkan dirinya
masing-masing dari titik paling
kosong. Terpecah-belah, mengun-
jungi makamnya masing-masing
dalam diri paling asing.
Upgris, Juli 2015

Di Rumah Sakit

Di rumah sakit, banyak kece-
masan bertapa. Mereka ingin
menjadi manusia. Di depan ruang-
ruang operasi, mereka tak kunjung
berdusta. Lonceng-lonceng menyi-
apkan pesta. Hari kelahiran baru
ditunggu sejuta umat yang luka.
Upgris, Juli 2015
Setia Naka Andrian, penyair kelahiran Kendal ini adalah dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setia Naka Andrian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 26 Juli 2015