Memoar Santri Rocker – Nurani di Lorong Puisi – Menghadirkan Bayangan Merak

Karya . Dikliping tanggal 12 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Memoar Santri Rocker 

dulu, aku dan kami berlari-lari nakal di dini
merasakah tanah ini, tempat terbebas sesuka diri
bertengkar saling cakar dan emmaki saling caci
namun dendam tak ada; benci pun tak jadi
dulu, aku dan kami teriak-teriak kasar di telinga jiwamu
       menyanyikan lagu rock pemberontakan dan cinta
       berjoget saling cibir dan berjingkrak saling sikut
       namun malu kami punya; dosa pun sudah terasa
dulu, aku dan kami senang menabur paku di jalan sendiri
       memagarinya dengan duri rukam dan pandan duri
       berjaga-jaga, cemas hati bila luka tertetes api
dulu, aku dan kami sering lupa berucap doa dan kasih
       membungkam mulut dengan canda dan tawa-tawa perih
       bersama kejumudan akal dan batin kekasih
Banjar Timur, 13 Juli 2015

Nurani di Lorong Puisi

enam tahun kulalui lorong puisi
hitam putih perjumpaan imajinasi dalam diri
suara dan hening yang sukar kutangkap
menjadi anak nurani yang diidamkan 
setiap persimpangan aku berhenti bicara
membaca laku hidup dan gaya cipta
di masa lalu sekian pertanyaan ada
terus menumpuk jawaban hari ini
aku punya masa depan di lorong puisi
aku punya masa lalu di alam imajinasi
dan masa depanku menuruni rumah nurani
duniaku, dunia keterasingan yang disengaja
dunia yang melupakan gejala kehidupan
dan aku sudah mengerti ambisi manusia
Februari 2014

Menghadirkan Bayangan Merak

aku keluar dari telaga hikmahmu yang hijau dan biru
badanku bersih berpendar sinar bulu-bulu ekormu
rambutmu berkilauan di mata gadis remaja dan janda
ucapanku didengar meski masih sebelah telinga
kerangka pikir dan rasaku tersusun dari siasatmu
pandangan serta tujuan tercipta atas keyakinan
bahwa tak ada ratu adil, ia hanya mimpi
yang nyata ada tak lain dari kehadiran sang jiwa
di telagamu aku puaskan seluruh indraku
sendi-sendi dan otot kulatih dengan hukum alammu
sebab daya hidup dan daya cipta mesti dipersiapkan
setiap aku terjaga dan menjauh dari telagamu
aku merasa kau senantiasa menegur jalanku
kehidupan mesti berlangsung berdampingan
Februari, 2014

Jatuh Cinta pada Bunga

mataku jatuh cinta pada bunga-bunga
warna dan bentuknya menawan rasa dan cinta
ia wewangian dunia dan harapan kelak di surga
kemudian hatiku selalu ingin mengabadikannya
Selendang Sulaiman: lahir di Sumenep, Madura 18 Oktober 1989
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Selendang Sulaiman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 12 Juli 2015