Nglirip – Putri Nglirip – Boom

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Nglirip

sungai yang jatuh ke jurang mencipta debur paling
luhur
debur paling dicintai wali-wali
menembus kabut dan ihwal sunyi
serupa ombak menghentak hening tapal kapal dan
karang yang berdiam
debur yang mencipta sumur-sumur
dan airnya biru. seperti sebuah keabadian.
daun dan ranting pohon menebar nyali. berayunayun,
menjulang-meninggi.
menyanyikanmu dengan lagu paling lugu
‘’dengarlah anakku! air terjun ini tercipta doa-doa
lalu derai-derai air mata.’’
o, adakah di balik tirai air itu
lorong-lorong agung dan kerajaan semegah gunung?
Kutub, 1 Juni 2015

Putri Nglirip

: dari kekasihmu, Joko Lelono

1
jangankan perihal kecantikan, putri
mata air telaga akan digubah jadi bara api
mendung di balik gunung agung
akan jatuh bukan atas nama hujan tapi marahnya air
terjun
adipati yang merayu: pada kelembutan kulitmu,
rambut hitam terurai, yang kepada hujan memaksanya
derai,
bentuk tubuh berliku, wajah ayu.
adalah mata pancing di tengah-tengah angin
tapi tatapan matamu yang lembut bukan mata lelembut
maka akulah nama-nama yang kau sebut
orang sederhana dari sunyinya desa
2
jangankan air mata, putri
mengeluarkan keluh aduh saja aku tak sudi
dan bukan kematian (diri sendiri), buatku jauh
masih di sini. aku masih di sini, di tengah-tengah
dunia yang darah dan perjuangan tak ada beda lagi
tapi hatimu yang sepi adalah hati bidadari
maka akulah nama-nama yang kau cari
dan bukan adipati dengan samudera kekuasaannya
buat dunia tak kenal aku lagi
3
maka jangan pernah bertanya kenapa
aku memilihmu jadi samudera tempatku melayarkan
bahtera
sebab setelah tiadaku, kau hadir sebagai diri
istirah di deburan air yang kita sebut Nglirip ini
maka ceritakan pada yang pernah kehilangan belahan
hati
bahwa orang-orang dilarang meyemai nafsu di sini
sebab cinta adalah embun, dan bukan guguran daundaun
Karpet Hijau, 4 Juni 2015

Boom

orang-orang mengheningkan sampan, memaku cinta
di tanahku
di ujung laut paling biru, berbondong-bondong perahu
kalaulah pohon, mereka pohon yang kelak akan mengakar
kekar
di pundak, di tanah-tanah tabah
orang-orang meninggalkan perahu, seperti siluet
melesat cepat
di sini, di dermaga ini, mereka serupa angin pagi
datang, dan tak dapat ditebak kapan akan kembali
menyatu di kotaku, dan tak tahu mau apa
kalaulah gerimis, mereka gerimis dini hari menyimpan
misteri
kakek cerita: kadang mereka dari cina;
dari negeri atas angin, yang muncul dari balik senja
kemuning;
dari india;
dari negeri nabiku, yang konon para malaikat
menabur wahyu paling luhur
dan kembali, orang-orang mengheningkan sampan,
memaku cinta di tanahku
dengan atas nama tuhan.
di ujung laut paling biru,
semua datang membawa kenang-kenangan.
Kutub, 3 Juni 2015

Daruz Armedian, santri Pondok
Pesantren Hasyim Asyari ini lahir di
Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra
Kutub Yogyakarta, Jejak Imaji, serta
Institut sastra Sunnatunnur

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah etrsiar d surat kabar “Suara Merdeka” pada 5 Juli 2015