Rebana dan Serunai – Roti Beraroma Kopi – Janabijana

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Rebana dan Serunai 

gelombang sungai Kampar menjulangkan sangka
kepada catatan musim yang belumm juga terbaca, ada
sejarah yang belum termaknai dari residu lumpur
yang mengemuka dan kembali teraduk dalam pusaran 
arus apakah akan dapat digapai kembali ingatan itu,
atau akan segera terangkat ke laut, hingga menghuni
dasar Selat Malaka, hingga hanya mengapung celoteh:
apa mau dikata. sementara itu suara naik turun bukit
lembah gelombang seperti bunyi rebana yang susul
menyusul dalam rentak penauh yang berlenggok
berputar di pelataran abad. bunyi-bunyian yang juga
menderas dalam hujan, ingin membelah lebat curahan
air, namun tak juga sampai nada-nada hadir. tersekat
ketkan ada lapis-lapis yang kedap, dan diterpa
lembab dingin hingga berkarat.
angin silam masih hendak meniup serunai di pinggiran
pantai karena dulu terburu ada yang datang meski tak
diundang. lalu mereka mengenalkan roti dan keju yang
profan, serta nyanyian pohon tak berakar. bukankah
masih ada syair dan pantun yang belum usai
disenandungkan, meski waktu bersaing kecepatan
dengan angan. gema dari pulau-pulau itu yang
mengulurkan larik-larik takzim salam, masih dapatkah
terdengar bagi kamar kekinian, mungkin tak tertangkap
lagi ngilang irama yang dulu menjadi teman dalam sepi
para pejalan. ia tak berharap ada putaran balik dari 
waktu, namun ia hanya ingin menyisipkan desir yang 
mengingatkan zaman tentang napas dan kayu. betapa
pada sungai penempuhan, pun akan mengalami:
terhempas dan layu
Jakarta, 2015

Roti Beraroma Kopi

telah kukatakan, jangan kauajak aku melewati kios
roti berarioma kopi. ada yang tersedak di dalam 
kepalaku, dan ada yang terbahak di kejauhan deru.
bukankah masih ada lorong lain yang tak lewat kios
itu, seperti juga bukankah banyak cara menikmati 
senja. tak harus dengan duduk santai di pantai,
namun bisa juga cukup dengan duduk di teras
rumah sembari melihat pepohonan degan daun 
daun yang tengadah.
pada roti beraroma kopi itu aku seperti disuguhi 
cerita tentang kerja odi, terbayang lurus kaku
mimik mereka yang disebut tuan dari Eropa, yang
gemar menyantap kentang adonan terigu, dan
minum kopi. aku tak sanggup menghapus coretan
di langit yang mengirimkan adegan tubuh-tubuh
kurus mering diciumi ujung cambuk dan mulut
senapan.
aku membayangkan saat roti itu dibelah, mengalir
darah hitam merah dari tubuh keriput lemah, dan
pada gigitan pertama seperti terbit jeritan bergema.
Jakarta, 2015

Janabijana

kau tak pernah mengukur
telah berapa kilometer perjalananmu
di jalinan tahun yang bersambung
yang mirip temali arena bersabung
lalu kau pun kerap bertanya pada orang-orang
yang kautemui di beberapa kisah
ke mana arah menemukan kata
yang kerap terngiang dan bersambung
pada pangkal sepimu
entah lupa atau letihmu
hingga kau seperti tak ingat lagi siapa dirimu
asal muasalmmu
mungkin karena di atas kepalamu bertengger kota
di pundakmu pabrik dan kantor
terus menekanmu tak jemu-jemu
telepon genggammu menjadi tujuan wisatamu.
yang penuh riuh dengan pacuan dan mesin permainan
namun tak ada sungai, danau, dan air terjun
juga sawah dan gunung-gunung
yang kerap mengajak renung
adalah musim kering yang terus berembus
membagikan terik ke dalam pori-porimu
hingga hausmu memanggil
menemu pada minuman ringan manis dan bersoda
senja makin sering mengunjungimu
hingga malam hadir dengan ritus kegaiban
dan kau pun dalam cemas berdoa
semoga belum menjadi malam terakhir
agar maish dapat kautemui
sumur di kampung tanah kelahiran
juga dekapan ibu yang mengalirkan segar
bagi setiap asing perantauan
dan hunjam kesendirian
Bekasi, 2014


Budhi Setyawan, dilahirkan di Purworejo, Jawa Tengah, 9 Agustus 1969. Mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Setyawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 5 Juli 2015