Serbuk Kopi di Meja Kerja – Pulung

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Serbuk Kopi di Meja Kerja

berapa lama kau habiskan waktu untuk sampai di sini?
seribu jukung yang karam dan perlahan dilupakan
membayangkan sebuah daftar riwayat terbentang
serupa atlas-atlas yang terbakar bersama hikayat perkasa para nakhoda
wajah pucat para kelasi yang kuyup oleh taufan
sebelum kembali kering terbaring menghitam
samar dan bisu.

Pulung

1.
engkau sediakan sebuah mahkota
seribu langit dengan rahasia di pusar-pusarnya
di bawahnya rahim berharap membuahkan pewaris
pemajang potret di sudut kamar
“bapa, kutagih tiket perjalanan
yang dulu terselip di lusuh jaketmu!”

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu Ke-2 Januari 2017

tuhan menggambar lurus di atas langit yang bengkok
sebuah mahkota bersanding sepotong tali gantungan
ksatria bersama malaikat
iblis-iblis dan pengkhianat
menyorakinya bersama-sama

sesuatu mesti ditangkap
senja, bisik angin atau pucat malam
kabut menudunginya
dalam tatapan mata kucing liar

2.
ada yang hilang di sini
bermula dari sajak tak menjadi
fantasi berkelebat menjadi bayang-bayang sempurna
tekstur buram masa lalu
riwayat para moyang
hantu-hantu bergentayangan
meneriakkan himne-himne kibaran panji-panji
“kuwarisi kau hikayat para ksatria kekuasaan akan menjadikanmu dewa
dengan wajah gandarwa!”

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-5 Oktober 2015

3.
kembali tuhan menulis di celah langit
kali ini dalam goresan cahaya samar-samar
gerimis perlahan turun dalam malam tak bertuan
kegaiban mengajak berlari ke dunia yang lain

sunyi tak berhasil membentuk kata
sajak menjadi sarat bunyi pedih
menetes ceruk kedalaman diri yang tua

bersama waktu yang tiba-tiba kembali muda
mimpi-mimpi berjatuhan dengan denting yang rapi
menjelma sungai-sungai terus menangis

wajah-wajah jadi telanjang
tak mungkin berpaling dari bumi
langit gagal melahirkan doa suci
musim begitu rakus menghirup mimpi

Baca juga:  Ruang - Pada Akhirnya, Kita Memiliki Jalan Masing-masing

Pulung: Wahyu berupa kekuasaan juga bencana.

Tjahjono Widijanto lahir di Ngawi, Jawa Timur, 18 April 1969. Kumpulan puisinya antara lain Janturan (2011).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widijanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar ‘Kompas’ pada 5 Juli 2015