Zikir Pasir – Hudur – Baina – Syahwi – Dari Pawon

Karya . Dikliping tanggal 12 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Zikir Pasir

kadang kita seperti debur
di pantai tak mengerti ke mana
memuara. tapi terus diseret arus
kedinginan. dipecah peluh tak berarak,
disapa deru yang menangis
tetap saja, air selalu sendiri
tak mengenal pancaroba, atau gerimis ritmis
ya, kadang debur menolong suasana hampa
laksa lautan depan
Guamanik Pecatu Park, Syawal 1435 H

Hudur

:Nur

matikanlah selawat itu, Nur
sebab Muhammad telah bersemayam
dalam kedalaman ruang serta relung
daging yang selalu berdenyut
alir darah sel-sel tubuhKu
bunuhlah takbir, bakarlah zikirmu
Nur
Ia tetap tegap, bersemayam
pada detak waktu yang terus
berputar pada aql-aql Ku
di sini tak ada dinding, tembok, gerbang, batubata,
kacakaca
penghalang mataKu, tubuhKu telanjang
dunia kosong tak ada apa-apa
hampa semacam telanjang di mata kungfu panda
kalimasada, pengikat limapuluh kesunyian,
ketiadaan. Aku tak mati dalam tubuhmu, Nur
Tembalang, Syakban 1435 H

Baina

dalam dekap sunyi
ada Tuhan ramai, banyak, berpendar
menjadi asap, menjelma api, merupa tubuh-tubuh
angin
pada tubuh goa paling pekat warna
Ia seperti burung deres, mendengkur keras
dalam kerlap-kerlip lampu-lampu kota
Tuhan mati tertabrak lalulalang ego, kedengkian
piantun-piantun yang lupa
dalam misykat tubuhku di tengah alun-alun simpang
kota
Tuhan menjadi tiada, senyap, terurai, hilang
seperti angin lewat depan mata kita
Tembalang, Syakban 1435 H

Syahwi

pada rakaat keberapa aku luruh
rubuh lebur satu dalam tubuhmu
menari tanpa tanah
arah sudah menjadi panah
tiap takbir lesatan
terus bertahmid, tasbih
pada kesekian rakaat
aku masih tetap
bersikukuh akan membaca
sujud syahwi atas kekitaan
yang sirna dari ingatan
Gubuk Jetak, Ramadan 1435 H

Dari Pawon

tiap zikir asap
yang kepul dari dalam
lubang napas ilahi
tanda aku ada

Kariadi, Zulqaidah 1435
— Arafat Ahc, pengelola Perpustakaan Sastra Nusantara-Arafat Library Demak [PeSaN-ALiD] dan aktif di Komunitas Sastra jeN4NG Kudus.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arafat Ahc
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” 12 Juli 2015