Hati Menggigil di Kiaracondong – Bukan Kesedihan tapi Kesendirian – Rencana Bersepeda ke Rumah Ibu – Dari Kolam

Karya . Dikliping tanggal 2 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Hati Menggigil di Kiaracondong

ingin hujan turun di kereta api 
mendentingkanku simfoni sunda 
menyelimuti tubuhku 
adalah perjalananku 
kutempuh laksana menautkan rindu 
kepada perempuan cangkuang 
supaya terhubung selamanya 
membayang di antaranya 
di kereta api 
kau menjelma bulan mungil 
di hatiku yang sedang menggigil 
2015

Bukan Kesedihan tapi Kesendirian

ia menggumam tentang
tangan dan kakinya
berdarah setiap hari
ia melingkari diri
dengan baju merah
lusuh dan bau tanpa parfum

ia menggumam tentang
pabrik besar di kepalanya
tentang upah yang mencekik tenggorokan
tentu ia tak akan sesedih perempuan lain

ia pernah kehilangan waktu
lantaran ia bersedih
mungkin hingga usia sekarang
kesendirian adalah merenungi diri
lalu ia menggumam tentang
jiwa dan surga

2015

Rencana Bersepeda ke Rumah Ibu

menjelang bersepeda ke rumah ibu
kuhimpun stok rindu, sepatu, kaos
dan sepuluh baju untuknya

ada nyanyian-nyanyian
dalam telepon genggamku
yang menjelma iringan paling merdu
untuk kudengarkan sepanjang jalan

bersepeda di antara kota dan sungai
kurapalkan doa semoga ibu senantiasa
tersenyum di jendela seperti dahulu
dan aku ingin melihat ibu

memelukku dengan hangatnya sore
yang penuh dengan kenangan

2015

Dari Kolam

aku melihatmu di dasar kolam
sederhana permintaanmu
bahwa malam ini kau ingin aku

dari kolam itu
aku mencintaimu sangat lucu
tertawalah sepuasmu
saat kau tahu aku ingin kau

tak sadar kita pada bulan
yang muncul lalu tenggelam

tetapi aku merasakan saat ini
cahayanya menyatu di dasar kolam

2015

Husen Arifin, lahir di Probolinggo, 28 Januari 1989.Selain menekuni puisi, ia juga menulis cerita. Karya terbarunya, kumpulan cerita pendek Lampion (2014).
Rujukan:

[1] Disalin dari karya Husen Arifin

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 2 Agustus 2015