Jazirah – Di Bukit Asah – Sakal – Di Pelabuhan

Karya . Dikliping tanggal 2 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo
Jazirah
Dan sore pun mengabu ke selatan lereng
meninggalkan kertak gigi dan karat perigi
di batas percakapan pukul empat sore.
Sementara di meja, kita hamparkan peta.
Kita pertebal tapal, batas-getas dunia,
kita kunci bentangan daratan dan lautan
dengan ingatan, kita pisahkan derita
dan airmata seperti potongan agar-agar:
tempat pening tampak bening dan segar.
“Mau tunggu apa lagi?” sebongkah suara
mengetuk pintu kita, membuka ruang baru,
ruang yang yang sama sekali baru. Dari dalam
seseorang telah menunggu. “Itulah rindu,
tak pernah definitif, selalu kehilangan selalu.”
Kemudian angin melintas dan membekas
di gulungan peta, di gulungan tubuh kita,
lebih cepat se[ersekian detik di gugus waktu.
(terinspirasi lukisan Paul Kle Equals Infinity, 1932)

Di Bukit Asah

Jika nanti gaungmu tak bisa
kudengar lagi dari tebing-tebing ini,
berjanjilah, kau akan menyapaku
melalui bisik daun sepanjang tahun.
Jika nanti kelebatmu tak bisa
kudengar lagi dari tebing-tebing ini
berjanjilah, kau akan mengecupku
dalam tidur panjang para  pemazmur
(terinspirasi lukisan George Seurat Le Bec du Hoc, Grandcamp, 1885)

Sakal

Kesedihan menyelinap dari mana?
Padahal pintu telah kukunci
tirai dan jendela telah kututup
lampu-lampu telah kupadamkan,
tapi tetap saja waktu
bisa mencurimu dariku
(terinspirasi lukisan Oskar Kokoschka Bride of The Wind, 1914)

Di Pelabuhan

Ombak-ombak rahasia dihasut angin gila.
Tak ada layar yang bisa menyeimbangkanmu.
“Jangankan laut, maut pun kuseberangi!” katamu.
Mimpi-mimpi manusia memutih seperti buih.
Tak ada yang membantuku mencapai dasarmu.
“Kau pengecut,” katamu dengan nada bercanda.
Ah, tapi siapa berani bercanda jika laut mencatatnya?
Kita tertawa, bintang-bintang tergelak, cahayanya
menyunggi malam, menyangga kekecewaan kita.
Dan waktu, kapal tua yang tertambat begitu saja.
Entah kapan poenyesalan memungutnya.
Kau membuatkuy kian terpencil ketika nasib
tak kunjung bisa kucicil.
(terinspirasi lukisan Egon Schiele Harbor of Trieste, 1907)
Adimas Immanuel bermukim di Jakarta. Buku puisinya, Pelesir Mimpi (2013)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adimas Immanuel
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 2 Agustus 2015