Krematorium – Jalan Laba-laba – Malam Sebuah Kota – Arah Kenangan – Musim Gugur – Perjalanan Terang

Karya . Dikliping tanggal 23 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Krematorium

di depan pintu
pagi dan sore yang sama
mengetuk
sebuah hari dalam kamar
sebuah restoran untuk makan malam
menonton drama, membuat tangisan
aku kenangkan 
hujan di halaman belakang
kisah-kisah cinta
waktu tersalib di dinding
24 jam adalah bayangan
menyembunyikan diriku dari
suara mesin pendingin, pidato kemanusiaan
sebuah hari dalam kamar
krematorium
dengan matahari tergantung
di tepinya
2014

Jalan Laba-laba

dalam kebutaan 
seekor laba-laba
menempuh sinar bulan
bersama burung pengeram malam
dipadamkan jalannya
dibasahkan tubuhnya
dari belantara dan musim hujan terakhir
dalam jurang gua
membangun rumah, mengurung cemas
jaring yang terputus
sedalam ngilu ini
diperihkan kesunyian
kehilangan sengat
ketika dunia dilenyapkan
sebab tak ada lawan
maka masuklah
ke lubang hitam
jauh
di bola mataku
2014

Malam Sebuah Kota

ia dulu menyebut maryam
malam kepada gelap
jalan kosong terlulur
menangkapnya
dari cinta yang jauh
bulan paruh, langit sepucat tudung
dan rambut angin menjuntai
gedung, trotoar, ellampu
kesepian singgah sebelum iman
sebeljum salam memanggil
di kota, di mana dahaga tinggal
loring ini
tak melepaskan doa
seakan ia tahu, tuhan tak di sana
2014

Seseorang yang Terusir dari Anzio

ia yang membuat perapian dan membakar
silsilah di kehidupan
memainkan biola tapi fasih mengebiri
membacakan puisi tapi menikam pisau
keleher sendiri
di bukit oppio, gua dan lorong-lorong panjang
ia yang pergi bersama orang-orang malang
dihapus dari ingatan para santo
dari kota abadi
seperti anak jelata
asing dan sebatang kara

Arah Kenangan

jalan tak lagi mengarah
di puncak tebing ini, umpama
satu-satunya piluhan hanya  kembali
aku, kelebat di balik kabut
yang tak bisa hilang

Musim Gugur

sebuah lampu menyala
selekas tubuh dikemas,
kamar yang gemetar,
bukit di kejauhan

Perjalanan Terang

tak ada yang lebih mendebarkan
dari perjalanan terang menjadi gelap
mengusir laron-laron
mendatangkan kekunang
manakala hinggap
menanam terang tubuhnya
membuka satu-satu
langsat kulit
di tubuhmu
dari jemariku bergetar
saling mengabarkan
waktu yang tepat 
memadamkan lampu
Irma Agryanti: Lahir di Mataram Lombok.
Buku antologi puisi tunggalnya Requiem Ingatan (2013). Bergiat di Komunitas Akarpohon.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irma Agryanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 21 Agustus 2015