Loka Ate tak Adere – Telah Tercipta – Suatu Hari Nanti

Karya . Dikliping tanggal 9 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Loka Ate tak Adere*

Dulu waktu air surut
Dan karang menampakkan 
Wajah indahnya kita tertati membungkus rindu
Mendiamkan dan sulit untuk dilupakan
Menempel erat di hati
Hati luka tapi tidak berdarah
Seperti kaca pecah
Lelah dan lelah untuk kutinggalkan
Entah aku juga tak paham
Semuanya menjadi perih jika kuingat
San sampai kututup mata
Akan kuingat kau pembuat luka
Madura 2015
*Luka Hati tak Berdarah: Madura

Telah Tercipta

               : Adam hawa
Telah tercipta bumi sejak Adam dan Hawa masih dalam bayang
Dari segumpalan cahaya Adam kecil terjaga
Dan terlelap di surga
Menyendiri dan menyendiri
Telah tercipta Hawa yang tak disangka-sangka
Dari balik kesendirian Adam ia tersenyum dengan polosnya ceria
Dan betapa tidak tahu apa-apa dia tentang kenikmatan yang sudah ada
Sungguh tekah tercipta kebingungan di antara mereka
Telah diperhatikan dari bumi sengsara
Seorang pasangan yang bermesra ria di surga katanya
Dan iblis pun mengendap-endap tertawa
Berharap Adam berhasil dipetik ke bumi yang serakah
Tapi selalu gagal ia terima
Dan hingga akhirnya dia berbalik jahat
Sehingga Adam menuruti perintahnya
Kembali tercipta bumi sudah ada
Dan Adam dan Hawa adalah orangtua para manusia 
Yang kanak-kanaknya akan menempati surga dan neraka
MAdura, 2015

Suatu Hari Nanti

Suatu hari nanti bumi tua
Dan meninggal, dikuburkan juga
Suatu hari nanti manusia tiada
Dan terbangun dengan telanjang dari rupa-rupa
Yang ia pilih semenjak usia
Suatu hari nanti
Semuanya berpacaran
Seperti matahari berduaan dengan
Kekasihnya
Suatu hari nanti
Bukan hanya kayu yang menjadi abu
Tapi aku kamu, kamu yang menjadi abu
Suatu hari nanti air tidak akan susah
Dan pompa-pompa sudah kadaluarsa
Karena laut hanya milik kita
Suatu hari nanti kita ingat pada awal mula
Di mana ada Adam dan Hawa
Dan di mana ada surga dan neraka.
Madura, 2015


Kholil D Rahman, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Madura. Sekarang ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari, Yogyakarta. Belajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kholil D Rahman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 9 Agustus 2015