Menghadap Makam – Bekal Kunjungan – Di Depan Dermaga – Di Atas Kapal

Karya . Dikliping tanggal 23 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Menghadap Makam 

Punggungmu: rintih lempeng batu, percik 
bulu hujan. Kaubasuh jejak-jejak setapak, 
semilir angin meriap ke ufuk paling sunyi, 
belalang marun senyap di hijau pelangi.
Kau berdiri seakan jarum jam yang mati, 
kesedihan tercekik di tengah pergelangan.
Berpaling bukan semata kenangan, bisikku, 
melainkan percaya kebenaran masa depan.
Kauluangkan dada secelah dari luka spiral, 
bunga di tanganku luruh sejengkal makam.
Namun kering bau sumsum masih terkuntum 
sebelum doa di mulut sepahit sirih terkulum.
Kita pun saling memantulkan harapan, 
laring gema pada lorong yang panjang.
Begitu dilema nasib di lipat lidah, seakan 
getah sepah pinang hanya mampu kita telan, 
hingga tak bisa lagi dipilah dengan kata, 
selain perahu perlahan mengecil di danau itu.
Kutatap matamu, sepasang bukit yang jauh, 
dan ikan-ikan berenang menggoyang kilau sisiknya.
2015 

Bekal Kunjungan 

Ibuku tidak tahu kado apa 
bisa dibungkus dengan pita 
juga tidak tahu kertas warna apa 
dapat menyampul perasaannya, 
mungkin sekadar senyum terbentur 
keheningan batu. Ia tak mau sibuk 
soal pakaian untuk tubuh duka.
Tubuh yang mesti taram-temaram.
Tubuh antara kunang-kunang 
dan sebuah makam. Sebab kenangan 
tidak ditumbuhi bunga-bunga hitam, 
melainkan tujuh rupa. Maka kami 
memetiknya dari taman yang sama, 
serupa gerimis kami menaburnya 
ke dalam tas punggung sebagai bekal 
kunjungan sehelai saputangan yang peka.
2015 

Di Depan Dermaga 

Sebelum perpisahan menarik jangkar, 
kami cukup tenang mengucap sabar.
saat kening ikan-ikan menyembul, 
kami belajar membaca ombak di dada, 
sifat mengalir yang ragu, langit kelabu, 
harapan yang baur seperti sinyal markoni 
di dalam badai. Maka pada burung 
berpusar di angkasa, pikiran kami 
seperti tak putus-putus menerka arah.
Lalu kami serahkan nasib ke juru kemudi, 
memutus hubungan kepada lambaian 
tangan. Dan cuaca goyah di sela jantung 
melepas setiap doa di pantai mendung.
2015 

Di Atas Kapal 

Jika di biru laut terpendam hatimu, kami penyelam 
hanya bertabung jantung. Serampangan menyambar 
ikan-ikan liar, terumbu soka, dalam dinding karang 
dingin sebening rindu. Atau, jika di ambal langit, 
matahari sejajar matamu, kami pendoa berdengung 
di balik gelap semata. Sebab di selat ini pelan-pelan 
pasang menggeliat, seperti melankoli pada pupil 
matamu gerimis menitik. Namun, di hitam alismu, 
kapal kami perlahan melaju; jarum magnet itu 
gemetar merujuk satu ufuk; seraya masa lalu 
menjenguk dermaga untuk menyambutmu 
dengan hati putih, sebagai peziarah yang letih.
2015 
Nermi Arya Silaban, lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 17 Juli. Menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung. Kini bermukim di Jatinangor, Jawa Barat. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nermi Arya Silaban
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 23 Agustus 2015