Nurani Serdadu – Pengkaji Hidup dan Mati – Veteran dan Tentang Kemerdekaan

Karya . Dikliping tanggal 9 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Nurani Serdadu

Katanya aku bukanlah seorang serdadu,
tetapi keraguan yang menyerahkan diri
pada sebuah keheningan perjalanan,
pagi hari yang berlari entah ke mana.
Tak mampu kubayangkan dengan apa aku melihat.
alang-alang yang tak bersuara itu,
tari-tari yang tak pernah berhenti
menjadi tali dan puisi.

Aku terus berlari dengan nurani
meski lidah ini mulai retas kecil-kecil.
Segalanya kian mengabur dalam mataku
bersama dengan datangnya angan-angan
yang telah lama tak kembali dalam ingatan.
Masih adakah alasan agar aku tak perlu sembunyi
dari kata-kata yang bangkit dari pembatas buku
serta wajah yang terletak dekat gelas-gelas?

Di sana ada kesepian yang mengikutiku
dengan topeng di tangan kanannya
mengenakan baju yang perlahan memanjang
sedikit demi sedikit dalam setiap gerakannya,
lentur seperti alang-alang yang tumbuh di dadaku
: sesuatu yang belum seorangpun mengakuinya
sebagai rumah tempat berbahagia
atau anak yang durhaka.

Baca juga:  Jalan Panjang Sebuah Hikayat - Di Tanah Karo Pengrengret Diturunkan

Pengkaji Hidup dan Mati 

Adinda, begitu sulit kuterka sesoal hanyutnya
batang ilalang di sungai dekat tengkukmu.
Entah kemana ia akan beradu atau mengadu.
Karena dengan sesuatu cara aku telah dilibat
oleh peristiwa, penumpasan anak-anak yang begitu
bengal.

Setiap tahun pipimu getas, sebab kau adalah biji
yang kusemai di pundak sendiri: ladang bagi penyair
lapuk,
di matanya kusut benang layang-layang.
Atau barangkali jenggala, bagi mereka
yang mengaku hidup cuma sekali.

Di tengkukmu yang berlempuk bulu-bulu,
kubangun tugu mirip tilas seorang nabi.
Cerita prahara di puncaknya
: sahaya birahi yang hilang indung-bapaknya.
Darinya aku mengerti, bahwa sebelum mati,
tanah haruslah kugali sendiri.

Kau yang pecah ambingnya
membentur pejal duri buah salak,
rebahlah dipangku ayah penutur dongeng.
Tunggu selepas aku pulang berladang,
ini rindu terasa malang memelihara
malam yang keram pundak bahunya.

Baca juga:  Burung Sirin

Veteran dan Tentang Kemerdekaan 

Di sini, kami melihat air mengalir
: Filsafat yang terus membuat kami berpikir,
Penyelidikan akal budi yang sempat terkubur
Mengenai hakikat mulanya cinta yang luhur.

Barangkali kami juga barbar yang lenggana
Pada silat sebelah lidah dan keindahan semata
Atau sekedar kelakar yang membentur kepala.

Katakanlah pada mereka, para serdadu kalap,
Tentang sesuatu yang menyenangkan hati
Semisal cerita si kancil dan buaya adikara.
Atau mimpi kami ketika bermain sabun
Di kamar kecil, segi empat peredam suara
Dan kecipak air bening huru-hara.

Katakan agar mereka mati dengan kepercayaan
: Bahwa terkadang hidup yang lekas, yang seutas,
Seperti akar-akar bambu digulung likas.

Seperti pula kami menemukan bentuk baru,
Dalam baris-baris kata yang terus diadu
Meski kulit sepatu retas karna dipakai berburu
Dan warnanya yang bangkas mulai lepas

Baca juga:  Sanur - Bayam Pasar Banjaran

Bukankah sesungguhnya mereka telah terlatih
Di bawah kaki yang pernah menginjak penjajah,
Yang hidup kembali setelah menyaru jadi katak,
Terpajang di dinding pendidikan yang gemeretak.

Katakan, kami juga mengalami rindu,
Pada harapan yang mungkin kedaluwarsa
Atau hari yang sungguh merdeka.

Marsten L Tarigan, lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Sekarang tinggal di Bandung, dan bergiat di Komunitas Kandang Singa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marsten L Tarigan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 9 Agustus 2015