Paradoks – Kepada Ranu Kasmorejo Kopral Satu yang Tertembak di Kota Baru – Sajak Bagi Demonstran

Karya . Dikliping tanggal 2 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Paradoks

telah datang iring-iringan pengkhianat
mari kita satukan
jarak kita
kehendak kita
kekuatan kita

kita saling buka topeng
agar tak terjerat dimensi lagi

mari kita sayat iring-iringan pengkhianat
kita telusuri setiap jalan
kita harus bersatu saudara!
terjang iring-iringan pengkhianat!

telah datang iring-iringan pengkhiatan
hilangkan wajah asa
kita terjang iringan pengkhianat
sambil bawa payung untuk rakyat

Kepada Ranu Kasmorejo 

Kopral Satu yang Tertembak di Kota Baru

bumi telah memisahkan kita
ketika gerilya menghantam kotaku
dalam bara semangat merdeka

adakah mawar di sampingmu
yang mekar antara tanah air nan suci
saat kau terjerembab ditembus peluru
segalanya tak terlihat di mataku

bumi telah memisahkan kita
bukan laut, gunung atau pepohonan
tapi sekadar kehendak nafsumu

Baca juga:  Perawat Kenangan

hatimu telah menggenggam keyakinan
atas segala langkah yang hampa
dan satu kenangan yang terpahat di benakku
yang kini semua telah melupakanmu

bumi telah memisahkan kita
mengubur bara semangatmu

:mari kutabur mawar di nisanmu

Sajak Bagi Demonstran

mari tikam semangat
dengan puisi-puisiku
biar terdengar
jerit tangismu

mari tikan semangat
dengan puisi-puisiku
asal bukan kegetiran
yang kandas
karena parau suaramu

mari tikam semangat
dengan puisi-puisiku
mengiringi sorak suara
biar lelap terusik
bagai sejuta anganmu
mari tikam semangat
dengan puisi-puisiku
asal kau tahu
kegelapan yang kau tempuh
bakal tertikam waktu

Kisah Kartosamingun Pejuang 45

kartosamingun
seratus nyawa telah kau tembak
ketika revolusi
kau lihat bocah tergilas mobil patroli
kau lihat orang menjual kabar
untuk menyelamatkan diri

Baca juga:  Kolam Penghabisan

kartosamingun
kau zinahi kebisingan

derap sepatu
letusan bedil
semua telah mengganyang batinmu

kartosamingun
keringkan air matamu
tatap sisa hidupmu
bakarlah buku-buku epos
kubur cerita tentang perang

kartosamingun
jangan ceritakan pada kerabatmu
ketika kau tembak musuh-musuhmu
jangan ceritakan pada kerabatmu
merdeka sekadar inspirasi semu
jangan ceritakan pada kerabatmu
ketika kau dipermak kaptenmu
kala dituduh sebagai
mata-mata musuhmu
jangan ceritakan pada kerabatmu
ketika kau merengek
minta dicatat sebagai bekas pejuang

tetapi kau justru dikhotbahi
dihujani umpatan

kartosamingun
tataplah patung-patung di taman kota
lukislah di tanah wajah-wajah mereka
wajah kepicikan dan kejam
wajah yang ditutup topeng palsu
lalu berkilah!

Baca juga:  rantai babi - jimat qiu - pertempuran bakarti - bakarti: setelah pertempuran - asmara dua serampai

kartosamingun
tanyakan pada mereka
kemana waktu gerilya?
tanyakan pada mereka
adakah darah membasahi tangannya?

kartosamingun
bagimu mikserdema
adalah ketenangan jiwa

(kartosamingun tertunduk,
mulutnya meratap sepanjang malioboro
merdeka telah menghapus namanya
bersama mulut-mulut latah
yang sok berjuang
bicara kemakmuran rakyat
dengan segala otaknya yang kosong
dengan segala nuraninya
yang melompong
dan diselimuti semangat masa lalu
yang bohong)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyana Giri MC
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 2 Agustus 2015