Sosok Semalam dalam Salju

Karya . Dikliping tanggal 16 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

/a/

Bagai kudengar serumu dari luar jendela ketika semua suara
sirna dan lanskap putih beku
Bagai kulihat ssokmu melintas di jajaran timbunan salju
menjelang petang, meniti kembang-kembang kristal
di pucuk-pucuk cemara
Bagai ada bisikmu sampai: “Aku adalah bagian dari hidupmu
ribuan tahun silam. Ketika sekujur wujudmu masih bersit
cahaya dan kalbumu belum dirasuk dahaga raga
yang menggayuti seluruh pikiranmu.”

/b/

Engkaukah yang memanggil-manggil dari arah telaga sembari
melayangkan senyum yang jauh menembus jasadku
Engkaukah yang memegang kanvas dan bersila di udara
sembari menatap deretan cemara
Engkaukah yang mendesirkan dingin angin purbawi
dan menghubungkan duniaku dengan duniamu
Lalu yang tertinggal hanyalah kesenyapan
Dan aku ganti berseru:
“Wahai! Sambungkan aku lagi ke ribuan tahun silam itu agar kita
bisa kembali berselancar di puncak-puncak gunung salju. Dan
dari tebing-tebing curamnya melesat turun pada ketinggian
ratusan kaki.”

Baca juga:  Selat - Televisi - Dada Lelaki - Tafsir Puisi - Pasien

/c/

Hari sudah pagi kala aku terbangun. Di luar suhu minus dua
puluh lima derajat. Alangkah pasi sinar mentari berusaha
menembus lanskap salju. Dengan mata tetap terpejam,
kubiarkan diriku terus terbaring pada sisi kasur pegas yang
dihangatkan oleh panas tubuhku. Teringat sosokmu,
kupastikan ia sebagai semata mimpi
Tapi segera aku bergegas ke jendela kaca. Seperti ada rabun
entah di mana. Kupandangi keluasan hamparan salju pagi
hari, mencari sosokmu kembali pada rimbun kembang
kristal putih-putih di pucuk-pucuk deretan cemara
Dan engkau tiada
Lalu aku pun tersadar. Aku tak bermimpi. Di kaca jendela mengkristal
berkilap-kilap sederet pohon cemara. Tiap batangnya bermahkota
garis-garis tegak segitiga piramida yang bertingkat-tingkat. Belum pernah
kusaksikan deretan cemara tertatah begitu indah di kaca jendela
Dan bisik lirih itu terlepas begitu saja dari bibirku:
“Datanglah lagi ke dalam mimpiku.”
Eagle Heights

Baca juga:  Arus Logawa 

Madison, WI, Desember 2001

Desember 2014

Mochtar Pabottingi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 1945. Buku kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Konsierto di Kyoto (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mochtar Pabottingi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 16 Agustus 2015