Botol-botol Plastik – Menyaksikan Pertunjukan – Tentang Kursi – Tentang Terasi – Jangan Kerdil

Karya . Dikliping tanggal 6 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Botol-botol Plastik

botol-botol plastik mengapung
warna-warni di dalamnya
busa-busa sabun kena cahaya
ke mana berjalan
angin yang jauh menggerakkan
tetapi di mana botol-botol yang kita punya
atau botol-botol plastik yang mengapung
yang kita tidak lagi mengenalinya
ke mana botol-botol plastik terus mengapung
angin sedang bingung

Menyaksikan Pertunjukan

tak selamanya hujan bisa diharapkan
musim kemarau yang loyo
di musim pancaroba angin risau
kita menyaksikan pertunjukan di atas panggung
para penonton mendengung
ada yang menari ada yang menyaksikan dengan geli
ada yang berdiri sambil terkantuk
ada yang di kursi menikmati duduk
semua akan pulang seusai pertunjukan
ada yang langsung tidur dengan nyenyak
di pagi hari wajah-wajah berseri

Tentang Kursi

kursi-kursi mencintai meja, meja-meja mencintai laci,
laci-laci mencintai almari
selalu mimpi-mimpi kita setelah tidur
mendengkur dengan ngawur
bisa jadi tak sepenuhnya kesalahan pantat
hanya dengung desah dan memutar ingatan susah
yang mewarnai
kursi-kursi di taman milik siapa saja
itu ada tanda dari bau berbeda-beda
setiap kita menghampirinya
atau dari kejauhan
kursi-kursi mencintai mimpi
mimpi-mimpi di dalam tidur
adakah yang paham mimpi-mimpi kita
tanpa bercerita

Tentang Terasi

dicuci, dicuci tempat terasi
ibu-ibu ragu mengontrol bau
dicuci, dicuci lagi
matahari sembunyi
bapak-bapak mulai tak suka sambal
pedasnya sumber penyakit lidah dan lambung
ibu-ibu ganti yang doyan
lidahnya keberanian
yang tak doyan pedas
sambal memerahkan hidung, telinga, mata
atau seluruh muka
keringat menderas
dicuci, dicuci tempat terasi
masih ada ragu tentang bau
itu dulu di dusun-dusun sebelum kenal sabun

Jangan Kerdil

masihkah di pelupuk mata kita
jeruji bukan lagi besi
dan adakah telah basi?
dan menjadi film diputar berulang
jangan terlalu digenggam angin
sebab waktu bisa berganti musim
bayi-bayi terus lahir
dari tanah terus bersemi
dari pupuk kandang terus bersemi
dari lumpur terus bersemi
terus berbuah
tak lagi bau tanah
masihkah kita remas sendiri mimpi?
Sunardi KS, menulis sajak, cerpen dan esai di media-media cetak. Lahir di Jepara 1955.Buku kumpulan sajak tunggalnya berbahasa Jawa berjudul Wegah Dadi Semar (2012).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 6 September 2015