Bukan Kenangan – Nasib Buruh – Dinihari Dada – Sesobek Riwayat – Bayang-Bayang

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Bukan Kenangan 

takdirlah yang mengutusku datang
bukan sebagai kenangan dari masa lalu
aku adalah aku yang berjalan perlahan
mengikuti gerak jiwa dan semesta
mengendap-endap memasukimu

aku juga tak mau jadi kenangan
melengkapi kisah yang kau tulis dalam ingatan
kelak kau baca di beranda sambil minum teh
dengan senyum tipis atau tangis yang samar

biarlah kenangan lahir sebagai anak masa depan
mari kita bersama menghadapi segalanya
dan kita akan lihat
: apa yang dipersiapkan takdir untuk kita

2015 

Nasib Buruh 

mataku terbuka basah
tidak melihatmu di sampingku
kau kembali menjadi buruh
pabrik itu menelanmu setiap pagi
memuntahkanmu ketika sore

Baca juga:  Setangkup Ingatan Semalam - Kumbangku

kadang aku benci kenyataan
ingin membawamu lari ke luar bumi
sampai suatu tempat
di mana hanya ada aku dan kau
tidak ada ceropong asap
dan deru mesin yang terus mendera

2015 

Dinihari Dada, I 

Siapa menabuh udara
lengas
dinihari dada?

Seretan-seretan
sepatu
duka, tanpa Paduka

2015 

Dinihari Dada, II 

Menerawang jauh
ayunan yang lupa
Daunku di pohonNya
bersiap luruh
pada saatnya

2015 

Sesobek Riwayat, I 

Jam adalah kepundan
yang aku redam dan redam
hingga tinggal sealur bayang –menggerayang
kertas putih di badan

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-4 November 2015

2015

Sesobek Riwayat, II 

Jam adalah kekejaman yang berlaku
jam adalah kekejaman yang berlalu

2015 

Bayang-Bayang 

Aku menuntun bayang-bayang tubuh sendiri
ke pintu yang hendak kukunci. “Masuklah,“
ucapku. “Sebab aku harus segera pergi,
tanpa kau terus menerus mendesah
sebagai warna hitam di balik kaki.“

Tetapi ia bukan `kucing dan selapis tipis daging
membalut tulang’ dengan perintahku. Ia bukan pula `
anak burung
dan induknya yang mengajari terbang’ pada
kemauanku.
Tanpa keributan dan senyata-nyata penyangkalan:
bayangan itu terus bersijingkat, mengikutiku

Baca juga:  Tidur - Ombak - Mata - Bunga - Pergola

O, betapa ia suka bersiul-siul
tanpa bunyi, bersekutu dengan ribuan matahari
–sejak aku lahir sampai detik ini —
meminjamiku perasaan yang tak seluruhnya
buhul benci dan terbebani

Sedang aku tak pernah membalasnya
dengan senyum yang pelangi

2015 

Arwinto Syamsunu Ajie, penyair, lahir di Kebumen, 3 Maret. Puisi-puisinya dipublikasikan di media massa dan sejumlah antologi bersama. Kumpulan puisi tunggalnya yang baru terbit berjudul Langit Bersorban Awan (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arwinto Syamsunu Ajie
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 27 September 2015