Ceremai Macapatan Pucung – Kupangku Kau di Ambulu

Karya . Dikliping tanggal 20 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Ceremai Macapatan Pucung

Langit umbar angkara, lalu cemberut.
Ceremai pun demam.
Ni Lampir gigil meringkih,
derita diboyong elang Jawa, ngahyang.


Cekikikan surili banjiri kampung.
Kota pun tenggelam.
Arusnya hanyutkan raga
Kaki Ceremai menghunus lara Kala.

Tangannya mencakar atmosfer kelabu.
Mantra sihir lahar,
mengesot-mengejang-mati
Para petapa ikut gelayut sanca.

Ceremai gusar pada penyair palsu.
Hujan abu kata.
Sesak menyumbat arteri.
Matanya jatuh menimpa warga kota.

Di pantai caruban terdengar gemuruh,
Ceremai emlemah.
Kematian meratapi.
Menanggung kesumat yang menumpuk lama.

Baca juga:  Suatu Pagi di Dermaga

Paris, 25 Februari 2015

Kupangku Kau di Ambulu

Ambu, fajar bersarung itu menyingkap bulir keringat di hulu.
Mimi dan mama menyeru menggebu di Ambulu.
Sambil sisir cepit rajungan yang menggantung debu,
ku tak malu angkut kotak kayu saat diserumu.

Di Ambulu, lidahku melantun sendu.
Bibirku menyeduh leluhur yang terbujur
di retak-retak lumpur yang kaku.
Di bawah tubuh-tubuh mangrove yang tak lagi bercumbu.

Kekar legam kaki-kaki besar itu,
gigih menarik ujung kepala perahu.
Menrindu ambulu yang syahdu menjaring kerapu.
Mereka angkuh inigin menggusur perahu yang berderu.
Ingin jejak ingatan nelayan diserut, disapu.

Baca juga:  Pagi - Sore - Fraktal - Kisah

Di beranda rumah kayu,
nyanyikan sisa fajar yang melarung.
Kutunggu gerobak yang melaju-laju.
menggiring asa-asa sedari dulu.

Kupangku kau di tanah Ambulu,
rindu asa anak bercelana biru.
Kupangku kau di pinggir pintu,
Ambulu yang mengadu pilu.

Paris 24 Februari 2015


Sinta Ridwan lahir di Cirebon, 1985. Saat ini tinggal di Paris sambil menyelesaikan kuliah Filologi di Program Doktor Universitas Padjajaran, Bandung dan Etnolinguistik juga Program Doktor di Universite de La Rochelle, Prancis

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sinta Ridwan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 20 September 2015

Baca juga:  Cambuk Cimanuk