Dengar Itu Gadis Menyanyi – Di Luar Dada Kereta – Wasiat Khatib

Karya . Dikliping tanggal 13 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Dengar Itu Gadis Menyanyi

Sambil jejaki tapak di pasir ia menyanyi
Ikut apa mau angin dan suara laut padu
Bagai ia memanggil lelaki pembajak hati
Ia tunda sampai ke nada akhir sendu lagu

Para pelaut menunggu, meninggikan cemas,
Si gadis kini berpeluk dengan pantai gelap
Malam mendesak senja, kelam teramat lekas
bergandeng dengan bayang, lagu belum senyap

Siapa peluk pelabuhan? Gandeng tambatan?
Perahu singgah, tak pedulikan camar berpekikan
Itu lagu kini untuk gelap saja dinyanyikan
Para pelaut karam dalam kedalaman kecemasan

Baca juga:  Aku, Lidahku, dan Kamus Besarku - Kamusku Sudah Besar - Aku Tersesat di Kamus Besarku - Lidahku Menggali Kuburku - Kata-kata yang Tak Ingin Kuucapkan - Pada Hari Minggu Kucari Ayah ke Kota - Mereka Bilang Aku Bebal - Bisakah Kamus Besarku Membantuku Menyelesaikan Teka-Teki Silang Ini?

Di pantai itu nanti pagi tak ada jejak lagi
Nyanyi dan sisa lagu disapu ombak habis
Tapi, jangan kira surya tak pernah kembali
Ia hanya buta tuli dari lambai segala tangis

Di Luar Dada Kereta

Kau kereta, tidak bawa siapa-siapa,
mengejar waktu yang makin berjarak

Segalanya menjauh, nama-nama kota,
kilometer yang tak terangka angka

Di jendela kau cuma bisa kenali senja,
malam masam, sinar bulan yang enggan,
singsing pagi, matahari tak lagi berarti.

Baca juga:  Berjalan di Hutan - Di Forest 18 Restaurant - Di Meja Makan Jaden - Potret Hari Pagi untuk Calem - Para Pemetik Teh

Aku, cuma penumpang amat gelap, tak
berkarcis tak bertuju: tak tahu sejak
bila, telah buta mulut, telah bisu mata

Menyanyat diri, duga kini: Ini kereta
apa di sini juga sekubur sehidup umur?

Wasiat Khatib

Lihat aku, lihat,
diseret-seret bayang sendiri,
ke pucuk bukit.

Seperti digiring
menyalin nyali
mengaji dan menguji
rasa sakit lagi

Telah tajam sepi
terasah Sepi.

Tali besar di leher

bila kutentang
makin menggenting
bila kusentak
makin mencekik

O, betapa pengecut ini
tak setabah Ismail,
masih saja
sia-sia kuharap
lenguh tolol
seekor domba.

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, 9 Maret 1971. Buku puisinya antara lain Mahna Hauri (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasan Aspahani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 13 September 2015