halo, bayan sarmidin – doa untuk sarmidin – ledhang sogol

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

halo, bayan sarmidin

beginilah sarmidin,
dalam puisi ini, dan mungkin memang hanya dalam puisi ini
kau berubah dari bayan celaka
menjadi bayan jenaka
sudah berapa panggung sarmidin
kau dibangkitkan hanya untuk digagalkan
lalu dimatikan, dibangkitkan lagi dan digagalkan lagi
lalu dimatikan lagi
pying pying, katamu pada si dukun
kuda beserta dokarnya, sapi beserta cikarnya
akan datang bila sanggup kaumasukkan singkal
dalam perut sogol, begundal sumur gemuling
dan kita semua tahu
pying pying itu tidak pernah benar-benar terdengar
dari derap kuda atau sapi
hanya langkah pesuruh gupuh yang ternyata nyata
pesuruh yang mengangkat mayat si dukun
dan jasad tuamu
halo, bayan sarmidin
tidak lelahkah kau terus menerus takluk kepada lakon
terus menerus dikalah dan ditertawakan
lalu kusebut-sebut sebagai bayan jenaka
dalam sebuah puisi yang seperti dipaksa
menjauh dari bahasa ibunya, bahasa yang dikehendakinya
puisi yang sungguh senasib denganmu
meski bersikeras ingin tidak

doa untuk sarmidin

imam tua langgar kaum abangan itu
mungkin satu-satunya yang berdoa untuk sarmidin
tepat setelah wirid subuh
enam jamaahnya, dengan mata bengkak
segera beranjak
dikutuk rindu pada kopi panas
atau hangat kubutan sarung
mereka, tujuh orang yang sabar menunggu
sogol mati di atas panggung
“sudah tiba jam subuhan,” ujar si imam
tepat sewaktu panggung dibereskan
“semoga sarmidin masuk surga,” lirihnya
kecuali seekor cicak di dinding langgar
tak ada yang mendengar
“sebab telah didakwahkannya, dengan tumbal nyawanya
kepada siapa saja untuk tidak menjadi jahat
dan apa yang mungkin terjadi pada orang jahat,”
tambahnya
dan selain cicak di dinding langgar
tak ada yang mengamini atau sekadar merasa tergetar

ledhang sogol

sebuah kematian, betapapun,
memang mesti diumumkan
lalu dirayakan
pada kematiannya yang pertama
ledhang kentongan di sumur gemuling
mungkin terdengar serupa bunyi gesekan
dari rumpun betung,
sakit yang meraung
perayaan adalah tangis
dan tahlil dengan suara miris
dan pada kematian selanjutnya
yang tak jenuh diulang-ulang orang-orang,
sekalian orang, kentongan tak lagi dipukul
seseorang dengan pelantang
menyusuri jalan mengelilingi kampung
bahkan hingga jalur pematang berlempung
malam harinya
perayaan kematian diawali remo,
bedayan, lawakan, dan petasan yang ditembakkan ke angkasa
dan tak ada seorang pun
yang mendengar bunyi gesekan
rumpun betung
Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit adalah kumpulan cerita Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 27 September 2015