Ihram – Thawaf – Ka’bah – Multazam

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Ihram

di tengah gurun, angin melipatkan debu
menghembuskan suara detak, di balik kain-kain putih
yang melilit
labbaik-labbaik Allahumma labbaik
labbaik-labbaik Allahumma labbaik
suara getar, memanggil asma, menyambut lapang
Tuhan hadir dalam relung dan jasad
datang tak membawa batang
tak menyisakan butir yang nyinyir dalam gemerlap tahta
meninggalkan kerumunan sorak sorai diri yang kadang
tersisa, walau harus basi
kain ihram, tak besulam, meratapi diri suka mabuk puji
memoles muka pada Ilahi, membawa hati selalu suci
Qormul Manazil, Jeddah 2015

Thawaf

bertandang, membawa selendang khudu’,
menyusuri ruas ruas ka’bah
dari Hajar Aswat ke Rukun Yamani
sesekali berhenti di pintu multazam,
memunajatkan rindu pada Dzat,
restu hidup lebih baik
menyusuri sesak manusia
menthawafkan hari dan tubuh
tujuh gelombang diri,
merapat melambai hajar aswad yang mulai kelam
tujuh gelombang diri, hakekat hari, berlapir langit dan
bumi
bergerak menuju titik kuasa,
dengan hati yang menista, berkerumun dosa,
memanggil ampunan Yang Kuasa
bersujud meujudkan wujud di akhir maqam Ibrahim
Pelataran Masjid Haram, 2015

Ka’bah

ribuan tahun silam, pusaran peradaban hati dibangun
jutaan manusia menthawafkan diri, memusar hati dan jiwa
tercipta empat mata angin, mengawali bait-bait rasa
Tuhan yang tak berdua, menjadi multazam doa,
mengetuk pintu dengan suara tak biasa
berselimut sutera hitam, dengan ukiran kata makna
membawa jiwa, selalu ingin berada di dekatnya,
hijir Ismail, Hajar Aswad, Rukun Yamani yang mengitarinya
mengecu dinding-dinding diberkati
Ka’bah, dibangun atas amar Tuhan
di pusaran perut bumi
Tangan Malaikat mengulahnya,
dua ribu tahun sebelum Adam dicipta
Sis, Ibrahim dan Ismail, menjadi Astar kini
Kutahu, Ia bukanlah Tuhan
Hanya sebuah perwujudan, menuju persautan
Maqom Ibrahim, 2015

Multazam

bukanlah daun pintu
yang menguak, masuk dan merasuk
tempat meminta, “hanya” tempat terdekat
bukan Tuhan, atau pintu Tuhan
sujud berwujud, kewujudan yang maujud
memultazamkan hati, pikiran dan diri
pada Yang berdiri sendiri
tak butuh angka materi, apalagi puji
tetapkah multazam, pepintu meneruskan sesuci hati
Multazam, 2015


Halmi Zuhdy, lahir di Sumenep, 1981. Penulis buku antologi puisi Tuhan pun Berdzikir, Yang Berguru pada Sajak, dan Negeri Tikus.Pernah membacakan puisinya di Poetry International festival 2012. Pengasuh Pondok Berkarya Darun Nun Malang, dosen sastra UIN Maliki Malang, dan peraih Munir Mazid Award for Poetry and Translation Rumania. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Halimi Zuhdy
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 27 September 2015