Kereta untuk Istriku – Atas Nama Manusia – Jalan Sibayak – Pondok Ar-Rosuli

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Kereta untuk Istriku

: andrianti sardjana

kereta kembali berhenti
entah di stasiun ke berapa
di luar gelap mengadang
segala tanda tak terbaca

merebahlah istriku,
biar kujaga lelahmu
dengan cinta dan berahi yang masih tersisa
hingga pada batas yang tak tercatat

kereta beranjak terbata
derunya memburai tak sepadan
menembus gelap meski malam telah lewat
membelah mendung yang kian menjurai
biru legam

tetaplah berebah istriku
sia-sia menghitung waktu
sebab tempat yang kita tuju
tak bisa dihitung dengan jarak
biarlah usia kita kelak
yang mencatat ruas demi ruasnya

Baca juga:  Bunga Melati Ibuku - Aku Hanya Seorang Ibu

:kapan sebenarnya kita sampai
meski bukan di stasiun yang terakhir
aku berharap anak-anak tetap dengan senyum
saat menyambut kedatangan kita
kepada mereka ingin aku ajarkan
bagaimana memahami cakrawala
tanpa harus bergantung pada bulan dan mata-
hari
karena sejatinya hanya langit
rumah bagi keluh dan gelisah kita

kereta kembali berhenti
entahlah!

Semarang 2015

Atas Nama Manusia

kupinjam nyalak anjing
untuk memanggilmu
jauh berulang
belantara raya bergeming
selebihnya hampa

Baca juga:  Sepenggal Jalan Anakku - Ayah - Kisah dari Tanah Ngarai - Ambang Batas

:dendam pun kembali bermuara

Semarang 2015

Jalan Sibayak Nomor 6 Semarang

: hary afandi

menatap sunyi sepasang matamu
tak ada yang tersisa
gelisah para tualang
dan gundah gulana kaum pecundang
yang dulu senantiasa riuh
berebut rembulan
menghamba

di sini keheningan kian tak berjarak
sebagian bermukim
pada kerut wajahmu
:waktu

maka izinkan aku tetap menjabat tanganmu
saatnya kelak
kita akan menjadi rembulan
sejatinya rembulan

Semarang 2015

Pondok Ar-Rosuli

(siang bersama habib syakir)

di ruang tak terjaga
aku bersandar pada derai angin
terdengar sayup
adzan bertajwid
berbisik kepada segala siapa
:hening

Baca juga:  Sebenarnyalah Kamu Hanya Wanita

di ruang tak terjaga
hujan terdampar di bebatuan
ketika belukar dan ilalang tengah berpulang
sendiri aku bersujud
dalam kangen yang memanjang
pada para khalifah yang terberai
:duka

Semarang 2015

Agoes Dhewa, penyair yang tinggal di Kota Semarang

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agoes Dhewa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 27 September 2015