Kuping Kanan, Kuping Kiri – Kaki Kiri, Kaki Kanan – Tangan Kiri yang Sembunyi – Sepotong tangan Kiri – Sandal – Sepatu Telapak Kaki Telanjang – Tangan Kanan – Jari Tangan

Karya . Dikliping tanggal 13 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Kuping Kanan, Kuping Kiri

setiap ada angin teduh
kuping kanan menjelma pintu
memersilakan tamu agung itu

tetapi –diam-diam
kuping kiri berkelebat pergi
di ketiak kuping kiri mengintai
membiarkan komplikasi

Kaki Kiri, Kaki Kanan

kaki kiri, kaki kanan, bersepakat
demi keseimbangan,
tak pernah beriringan

seekor angin terbang
mengintai kelenaan

Tangan Kiri yang Sembunyi

di musim basah
sehabis tangan kiri bersalaman dengan tangan kanan
      — sembunyi

tangan kanan menggeleng-geleng
di setiap pertanyaan

kaki kanan yang menjejak lantai
tak didengar suaranya

bahkan ketika musim berjalan, terus berjalan
kaki kanan hilang nyali
tiba-tiba tak ada bicara

Baca juga:  Pemburu Bulan

(semoga tak ada)

Sepotong tangan Kiri

sepotong tangan kiri yang hilang
tak pernah berkabar dengan lengan

meski pun paru-paru radang
kepalanya tetap berseri

orang-orang lain menyangka
sehat-sehat saja

Sandal

yang sering dapat peringatan
“Sandal Harap Dilepas
Batas Suci”

aku jadi malu pada sandalku

Sepatu

kutanyakan pada lutut: di mana jari kakiku?
Tak tahu. Lupa
Kutanyakan pada kaos tak berlengan itu —
jari kaki disembunyikan
kutanyakan pada sol: di mana telapak kakiku?
Lupa
tanah, sawah, padi, rumput-rumput

(lebih-lebih
kalau sedang makan
teringat mengurangi nikmat)

; kalau hendak makan kalau hendak makan
kalau hendak makan
teringat
pikiran pepat

Baca juga:  Permintaan Ayah

:Anak-anak segudang

Tetapi beberapa sepatu protes
“Aku tak! Sungguh! Sungguh! Tak!”

Aku percaya
dan memang benar-benar percaya

Telapak kaki telanjang

gesit berlari
kebal duri
sampai kepergok di kompleks pemakaman
luput dari sandungan
patok-patok kuburan

kaki-kaki yang dikejar
           luput dari pengroyokan

Tangan Kanan

kalau sedang bergincu
tangan kanan yang maju
juga ketika berbedak

tangan kiri sering hanya disuruh pegang cermin

sampai kesemutan
terlupakan

2014


Jari Tangan

jari tangan — anakbuah pikiran
     “Ah, penakut niat” bisik pikiran

Baca juga:  Di Kotaku

hari selalu habis dimakan waktu
jari tangan, lalu segera menentukan

(lalu jari tangan mengolok-olok pikiran)

Sunardi KS: menulis puisi, cerpen, dan esai.
Buku kumpulan puisi tunggalnya berbahasa Jawa Wegah Dadi Semar (2012). Juga beberapa antologi puisi bersama. Tinggal di Bapangan RT 04/2 Jalan Pintu Air Girli Tanles Jepara

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 13 September 2015